Tuesday, February 23, 2021

Sadino's Monologue #30



Tulisan ini tidak berarti.
Nonsense, dan kamu tak akan mengerti.
Hanya aku yang paham. 


Aku merasa kalut. Ratusan benda tajam seperti menghujam jantungku. Tanpa peringatan, tanpa ampun. 

Sampai kapan aku akan merasa sesak? Aku tidak nyaman. Aku bertahan untuk sesuatu, untuk seseorang. Aku bertahan untuk sebuah rupa, sebuah nyawa. Entah untuk siapa. 

Aku hancur. Serpihan dagingku terbakar dengan sendirinya. Darahku mengering di atas bebatuan. Hujan tak kunjung turun, membuatku meneriakkan sumpah serapah tanpa henti. 

Ada apa, Sadino?
Wajahmu pucat.
Kelu? Panas? Sakit?
Siapa yang kau genggam itu?
Apa itu? Doa? 

Jika aku boleh bicara, aku mencari singgasanaku yang hilang. Aku adalah raja tanpa mahkota. Aku adalah raja yang enggan berbagi takhta. 

Aku mengabdi pada mimpi-mimpiku. Tak nyata, merusak, dan rapuh. Isi kepalaku berpijar, menghangatkan emosi. Perasaan apa ini? Rasanya aku mau mati. 

Ini realitas yang tak seharusnya tak aku terima. Ini kehancuran, dan kalian hanyalah manusia-manusia biadab. Biadab! Cinta kalian pada dosa terlalu besar! Kalian terlalu mengagungkan kehidupan! 

Aku berkelit, membidik cahaya di kaki langit. Menerka, jengah, dan menua dengan sendirinya. Aku memuja suara yang tak akan pernah kalian dengar. Menyalahkan takdir, melupakan kehadiran karsa. 

Manusia saling membual, meratap, merobek mimpi satu sama lain. Mataku lelah. Aku terlalu lama terlena. Aku terlalu lama bernapas. 

Tubuhku tak akan pernah bisa beristirahat. Tiap organ meronta, meminta diberi makan. Masa lalu tak akan membuat mereka puas. Lagi-lagi, aku gagal berseteru dengan ragaku. 

Aku ini penyair yang bisu. Akulah yang selama ini melantunkan elegimu. Aku adalah manusia yang mengoyak jantungmu. Aku adalah nyanyian yang kau kirim pergi. 

Aku hanya butuh bertahan lebih lama. Berkawan dengan dehidrasi, merengkuh kefanaan bagai anakku sendiri. 

Aku adalah tubuh tak bertuan. Aku adalah surya yang merana. Ini aku yang sedang jatuh cinta.

Monday, February 8, 2021

Sadino's Monologue #29



El, kenapa manusia gemar berkawan dengan kenyinyiran? 


Apa sulitnya untuk bicara langsung pada manusia yang kau benci? Apa sulitnya untuk mengungkapkan rasa yang nyaris meledak di dalam dada pada manusia yang ingin kau hancurkan? 

Kadang, aku merasa tidak adil jika manusia menyerang manusia lain saat mereka lengah. Atau, di saat mereka tidur, manusia dijadikan mangsa. 

Sesungguhnya, manusia memang tak berdaya. Untuk terlihat kuat, manusia menjatuhkan kaumnya sendiri. Mereka menghina saudara mereka sendiri. Mereka disebut tak layak, tak punya masa depan, dan pasif. 

Semua orang mengalaminya, El. Anehnya, mereka menyebut diri mereka intelek dan merasa menjalankan tugas mereka sesuai dengan permintaan Yang Kuasa. Saat Yang Kuasa bersinar, mereka melahirkan kegelapan dan memaksa orang-orang untuk berdiri di dalamnya. 

Elleni, misalnya. Dia bercermin untuk bersolek tanpa melihat keburukan dirinya. Padahal, bayangan dirinya di cermin terlihat seperti binatang. Elleni kadang terlihat seperti seekor kerbau dengan anting besi di hidungnya. Dia siap untuk ditarik secara paksa kapan saja untuk membajak sawah. 

Elleni sering melenguh, menyiratkan bahwa dirinya tak bahagia. Kini, Elleni hanyalah seekor kerbau betina yang tidak bisa melakukan apa-apa. Dua kaki belakangnya patah, dan dia tidak bisa lagi membajak sawah. Hidupny sia-sia. 

Elleni adalah manusia dengan pola pikir hewani. Elleni itu tolol, dan aku sadar bahwa dia merangkul manusia-manusia lain untuk terlihat tolol bersamanya. 

Oh, El, aku merasa letih. Dapatkah aku hidup tanpa kehadiran orang-orang seperti Elleni? Aku tahu keberadaan orang-orang seperti mereka memberi warna dan pelajaran. Hanya saja, Elleni dan kaumnya mengotori kedua mataku, El. Sulit untuk membersihkan bola mataku yang kini berwarna merah gelap karena terinfeksi bau mulut Elleni. 

Andai saja, lebih banyak manusia yang mau membantu satu sama lain. Andai saja, manusia tak saling menggugat. Andai saja, citra dan harga seorang manusia dengan manusia lainnya setara. 

Mungkin, hidup sebagai manusia yang primitif jauh lebih baik daripada hidup sebagai manusia yangkatanyamengaku berpendidikan. Oh, aku setuju, El.

Friday, February 5, 2021

Sadino's Monologue #28


El, aku sakit hati. Aku merasa dikhianati. 

Aku duduk di sana, seorang diri, membawa nama Katushka. Aku dikecam, dihujat, dan secara perlahan, aku dibangun untuk menjadi tamengnya. 

Aku ditunjuk untuk berdiri di garda terdepan. Aku berperang dengan diriku sendiri demi melindungi nyawa banyak orang. 

Hari berganti hari, ketakutanku memudar. Ternyata, hidup bisa semudah itu. Aku berhenti memikirkan keselamatan diri dan memberikan seluruh napasku untuk peperangan. 

Aku mencintai peperangan. Semakin banyak darah, seringaiku semakin lebar. Semakin banyak sumpah serapah, kepalaku semakin dekat dengan tanah. "Selamat datang, masa jayaku," ucapku kala itu. 

Hari yang aku dan pasukanku tunggu pun tiba. Kami diberi harapan atas jasad-jasad tak berwatak yang terbujur kaku di atas tanah. 

Lalu, apa yang aku dapat? 


Pengkhianatan. Aku dikhianati kaumku sendiri. Pershe bergeming, Elleni acuh tak acuh. 

Aku disamakan dengan si bodoh Suputnyk. Kami memang berada di medan perang yang berbeda, dan Suputnyk tidak berada di barisan terdepan pasukan berani mati. Dia hanya duduk menunggu mangsa dan menerkam mereka tanpa basa-basi. 

Aku berharap banyak pada Pershe. Dia bak orang terpuji di kota kami, dan dia mampu mengambil hati para ahli strategi kebangaan kami. 

Aku paham Pershe adalah seorang penyintas. Tapi, dia harus memikirkan penyintas-penyintas lainnya seperti aku. Jika Hluzd mengenggam janjinya, Pershe sudah mati sekarang. 

Aku tak berharap banyak pada Elleni. Si tua bodoh ini lebih mementingkan dirinya sendiri. Tak mengerti sopan santun, dan gemar mencari keamanan agar bebannya tak sebanyak kami. Dia juga senang menggunjingkan hal-hal yang tidak penting, menjadikannya sebuah kelebihan yang patut untuk dibanggakan. 

Aku kecewa, El. Sudah lama aku tak pernah merasa sakit hati yang teramat sangat seperti ini. Peluhku membaur dengan darah, semangatku dibakar mentah-mentah. Untuk apa aku terluka selama ini? Untuk siapa? 

Jika kau bilang aku terluka untuk diriku sendiri, lebih baik aku mundur. Alam bahwa sadarku naik pitam, El. Mereka mencari keadilan. Sedangkan ekspektasiku bertengkar hebat dengan daya juangku. Mereka saling meninju, El. Mereka saling membunuh. 

Lebih baik, aku pergi mencari ketenteraman yang sudah lama hilang, El. Lebih baik aku mati di pertempuran lain. Aku tidak mau berdosa untuk pengkhianat. Aku tidak mau melepuh tanpa alasan. 

Katushka tak lagi menjadi sebuah kota yang subur. Katushka adalah neraka, menjerat mereka yang punya visi dan misi serupa, dan melumat angan mereka yang ingin tetap bernapas meski tak ada lagi udara. 

Aku ini bukan benda mati, El. Aku hidup bukan untuk didaur ulang. Aku berdiri di sini bukan untuk dijual ke pasar loak. Aku punya rasa, aku punya karsa. Aku bukan hewan ternak atau pun peliharaan.

Aku manusia, El. Aku bisa menjerit kapan saja.

Saturday, January 16, 2021

Sadino's Monologue #27



"Kuatkan hatimu. Dengarkan semesta. Dengarkan kami." 


Aku sadar bahwa aku tidak bisa menembus batas yang dibuat orang itu. Aku sadar bahwa aku terus bicara dengan diriku sendiri di depan cermin, mempertanyakan aku dan kamu yang tidak akan pernah satu. 

Duniamu dan aku berbeda. Ada pagar yang tidak bisa aku lompati. Ada semak berduri yang tidak bisa aku lewati. Tapi, aku bisa berjalan di dalam pikiranmu kapan saja aku mau. Kamu mempersilakan aku. Kamu menyapaku tepat di belakang batas yang kamu buat. 

Untuk apa kamu menyegel sebuah mimpi? Untuk apa kamu merelakan sebuah memori? Kamu meminjam tanganku untuk membasuh wajah dan lukamu waktu itu. Untuk apa? 

Kamu merasa terkunci, terikat dengan ucapan orang-orang yang berpeluh demi menjadikanmu seperti ini. Kamu membentengi dirimu sendiri dengan harapan yang sebenarnya tidak nyata. Kamu bersimpuh semalaman untuk meyakinkan dirimu bahwa ini pilihanmu. 

Seperti apa rasanya terbentur ratusan kali di tempat yang sama? Seperti apa rasanya menghalau rasa yang terus menghantui? Ingat, kamu tidak mencintai mereka. Kamu hanya menjadikan mereka berhala. 

Jangan terpatri dengan loyalitas. Beri napas logikamu, biarkan dia hidup seperti kamu. Andai kesetaraan adalah bagian dari iman, semesta berada di dalam genggamanmu sekarang. 

Kamu datang meminta bantuan, dan aku menyanggupi. Kamu singgah untuk sementara, memperlihatkanku bagaimana caramu mengusir maut, dan pergi diiringi lantunan doaku. 

Ini hidupmu. Seperti padang pasir yang mendesir, seperti laut tak bertuan, seperti air mata yang menetes tanpa alasan. Dan hidupku tidak di sana. Jiwaku berpagut pada tubuh yang terluka, bukan di sana. 

Aku tidak memintamu kembali. Aku tidak mau menyaksikan duniamu yang luluh lantak. Aku tidak mau berjalan dengan kamu yang ketakutan. Mungkin lain kali. 

Karena bagaimana pun juga, aku tidak bisa melewati batas itu. Meski kamu memaksa, aku akan jatuh dengan sendiri. Meski kamu menyeretku untuk bernapas bersama, aku hanya akan menghirup asap. 

Langit mulai merekah, memerah menyampaikan isyarat. Aku berdiri di sini dan kamu di sana. Aku baal. Kamu pun demikian.

Monday, December 21, 2020

Sadino's Monologue #26


Aku hidup di dunia yang tak berbatas, begitu juga kamu. 

El, aku mengharapkan tak ada lagi keterbatasan akan sebuah pemikiran. Batas yang dibuat sendiri oleh manusia itu menghancurkan sebenarnya. Manusia jadi merasa kecil di dunia yang besar. Manusia jadi merasa takut untuk melangkahkan kaki mereka. 

Aku pikir, setiap manusia berhak untuk berjalan menuju tempat yang mereka inginkan. Manusia juga berhak untuk diam di tempat dan menyakiti tubuh mereka dengan hal-hal yang tak kasat mata. 

Mimpiku kerap bertabrakan dengan hal-hal yangbisa dibilangsesuatu yang tidak lumrah. Tapi, manusia adalah konseptor terbaik yang pernah diciptakan. Lalu, kenapa banyak manusia yang merasa tersingkir dari sebuah lingkaran yang seharusnya menampung pemikiran-pemikiran dahsyat mereka? 

Perlukah induksi? Haruskah hal-hal yang ada di sekitarku didasari dengan fenomena yang hanya terjadi seratus tahun sekali? Itu tidak adil, El. 

Manusia merasa mereka selalu terikat akan sesuatu yang mereka anggap suci. Padahal, kesucian mengikat mereka dan menjadikan mereka sebagai binatang bertubuh manusia. Kadang aku hanya tersenyum menunggu kebebasan. Tapi, aku juga tahu itu percuma, El. 

Aku tidak mengatakan manusia itu bodoh. Mungkin, fungsi beberapa organ di mereka hanya dimatikan sementara untuk berbaur dengan keadaan. Aku paham dan aku tidak mengatakan itu salah. Hanya saja, manusia terlalu takut hidup sendiri hingga mereka ingin bersatu dengan kejahatan yang dibalut dengan kebaikan. 

Kau mempertanyakan aku, El? Aku tidak bisa menjawab. Bertahun-tahun aku hidup dan berdamai dengan formalitas. Jadi, aku rasa aku bisa berlari tanpa beban melewati semak berduri. 

Aku rasa, kamu juga bisa melakukannya, El. Tapi untuk sementara ini, mungkin kalimat yang kita berdua ucapkan hanya sebatas kiasan. Agar kita lebih tangguh, agar kita menghargai daun-daun yang telah gugur dan berserakan tanpa tahu apa penyebabnya.

Monday, November 23, 2020

Sadino's Monologue #25



"Setiap tetes hujan yang jatuh membentur tanah,
bersemayam sebuah cerita yang sebenarnya tidak nyata." 


Tiga jam sudah aku duduk di atas tempat tidurku tanpa melakukan sesuatu yangkelihatannyaberguna. Rokok di tangan kanan, dan handphone di tangan kiri. 

Aku duduk bersila, memandangi hujan yang membasahi setiap atap rumah yang rata-rata sudah diselimuti lumut. Hujannya cukup deras, seperti menyapu bersih polusi yang kini tak kasat mata. 

Dunia terasa sunyi tanpa hujan. Setiap tetesnya seakan menyampaikan pesan, bahwa manusia dan air saling membutuhkan, namun juga bersinggungan. 

Aku nyaris tak bicara selama satu jam terakhir. Dua jam sebelumnya, aku menyanyi seorang diri, mengasihani sesuatu yang tak bisa aku sentuh. 

Aku juga mengajak diriku sendiri untuk bicara. Aku membatin agar ada yang mau mendengarkan, siapa pun itu. 

Perlukah alasan? gumamku sambil mematikan rokok ke asbak. Patutkah untuk menyelamatkan daripada diselamatkan? 

Iya, El, kau tahu itu. Di saat jiwaku mulai bergerak tanpa arah, El selalu menyemangatiku. Aku sedang tidak ingin memujimu, sebenarnya. Tapi, anggap saja percakapan hari ini berlangsung dengan hamar. Jadi, aku mencari celah untuk bisa bicara denganmu, El. 

Angin dingin menerpa wajahku tanpa permisi. Aku menunduk dan memperhatikan kedua punggung tanganku yang penuh luka. 

Luka-luka ini tak kunjung kering. Tidak, luka-luka ini tidak akan mengering. Selamanya, luka-luka ini akan membekas, dan mungkin akan melahirkan luka baru. 

Kontemplasi. Lagi-lagi, aku berkontemplasi. Pikiran ini bukanlah sebuah prioritas, melainkan aku sedang diuji. Kesabaranku, pengorbananku, waktuku, mimpi-mimpiku, semua jadi satu. 

Aku yang kecewa perlahan terlahir kembali, menghadirkan kekecewaan yang baru, yang sebelumnya tak pernah berani untuk aku sentuh.  


Ini aku yang melukis fenomena. 
Ini aku yang jatuh cinta pada bencana. 

Ini aku yang mencoba untuk menerima, 
Bahwa aku adalah air yang telah membeku selama seratus tahun, 
Bahwa aku adalah wadah yang terbuat dari daging dan darah, 

Anak cucu Adam, 
Yang menolak lupa akan serbuan rasa yang membabi buta meminta untuk direngkuh.

Sunday, November 22, 2020

Sadino's Monologue #24


El, bagaimana kabar Dove? Apakah dia sehat? Apakah dia baik-baik saja? 

Entah apa alasannya, aku rindu Dove-ku yang rapuh, El. Aku penasaran, apakah Dove bisa mengatur hidupnya setelah dia memutuskan untuk menghilang? 

Aku hanya bisa mendengus ketika mendengar namanya, El. Aku terlalu peduli, padahal sayap anak itu hanya patah sebelah. 

Aku selalu menganggapnya seperti anak kecil, El. Tapi, anggapan itu didasari dengan apa yang aku lihat. Dia memang seperti itu, polos, tanpa memedulikan masa depan yang akan menghantamnya tanpa aba-aba. 

Perkenalan kami singkat. Aku tidak pernah menyangka bahwa kami punya koneksi yangsejujurnyacukup menyebalkan. Tapi, aku tidak menyangkalnya dan aku menghargainya. 

Aku hanya membantu di saat dadanya terus penuh akan hal-hal yang tak kasat mata. Aku hanya membimbingnya untuk menemukan jawaban atas kekalutan yang telah lama menggumpal. 

Tidak mudah untuk berbincang dengan orang seperti Dove. Dia kerap memperpanjang masalahnya dan menutup diri dari dunia yang memberinya banyak cobaan. Dove memilih untuk menelantarkan pikirannya yang pada akhirnya, menggerogoti tubuhnya pelan-pelan. 

Isi kepalanya butuh kesegaran, El. Aku hanya memberinya relaksasi dalam bentuk kalimat. Semacam, penetrasi menuju tahap yang lebih sulit, tapi dengan mempermudah perilaku otak untuk memberikan respons yang nyaman. 

Sulit memang, mengubah cara berpikir manusia. Manusia akan berubah dengan sendirinya, dan aku percaya pendorongnya bisa berupa apa pun, mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang sukar untuk diyakini. 

Dove butuh pengorbanan untuk itu. Aku memperlihatkan kesukaran itu. Untungnya, dia mengerti dan memutuskan untuk berjalan menyusuri semak belukar yang tumbuh liar di kepalanya. 

Aku lega Dove mampu mengamini sebuah proses. Aku bersyukur Dove mau mendengar suara-suara yang menghancurkan dirinya. 

Satu hal, Dove boleh tinggal di negeri dongeng. Tapi, bukan dongeng seperti di film-film klasik Disney, tapi dongeng yang ditulis oleh Brothers Grimm. 

Aku harap, Dove lebih mendengarkan isi hatinya, El. Aku harap, dia mau mematahkan keinginannya untuk membuat orang lain nyaman di dalam pelukannya. Aku harap, Dove berhenti meratapi apa yang telah dia perbuat selama ini. 

Kamu benar, El. Aku tidak merindukannya. Aku hanya khawatir dengan keadaannya. Aku adalah burung gagak yang takut melihat merpatiku terbang menjauh.

Saturday, November 21, 2020

Sadino's Monologue #23



Hujan. Berkeluh. Menyesal. Hujan. Berkeluh. Menyesal. 


Hujan berhenti, dan malam mendadak bisu. Terlalu sunyi untuk ditinggali, terlalu gelap untuk dinikmati. Di kejauhan, aku bisa melihat bintik-bintik cahaya berwarna kuning menjalar hingga ke bawah bukit.

Dunia terlalu tenteram malam ini. Angin dingin membelai rambutku mesra. Rasanya seperti, belasan tangan menyentuh tubuhku dengan lembut. Wangi tanah yang basah dan butiran air di rumput membuatku mendesah. Inikah kehidupan? 

Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang membawaku kembali ke rumah. Kedua lenganku basah, membuatku ingin buru-buru pulang. Aku ingin berganti pakaian, aku ingin mandi air panas, aku ingin menikmati teh hangat. 

Aku tiba di rumah dan terpaku di teras. Aku bertanya-tanya dalam hati, perlukah aku harus mengetuk pintu? 

Pintu rumahku terbuka dan seorang laki-laki berdiri di ambang pintu. Wajahnya malas, kantung matanya cukup tebal, dan mata hitamnya menatapku kesal. 

"Dari mana kamu?" 

Aku tidak menjawab. Laki-laki tersebut mendongak, tapi kedua matanya masih menatap ke bawah, ke arahku. 

"Ini jam satu pagi, Sadino. Kamu dari mana?" tanyanya dengan suara yang sedikit meninggi. "Bajumu basah." 

"Aku mencarimu di sana," aku menunjuk langit yang bertabur bintang. "Tapi kamu tak ada." 

Alis sebelah kiri laki-laki tersebut terangkat. "Kau merasa kehilangan aku di sana?" 

Mataku berkedip berulang kali. Kepalaku menunduk tanpa diminta. 

"Lihat aku," pinta laki-laki itu dan aku menatapnya. "Jangan pergi sendirian. Aku tidak bisa melihatmu berjalan tanpa arah." 

Aku menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan, begitu juga dia. Aku masih menunduk, menolak untuk melihat wajahnya yang mungkin kecewa dengan keputusan untuk pergi seorang diri. 

"Sadino," laki-laki itu menepuk bahuku. "Mandi air panas, ya. Nanti aku buatkan teh hangat." 

Aku mengangguk dan berjalan melewati laki-laki tersebut tanpa bicara. Aku bisa merasakan kalau dia sedang memandangi punggungku seraya berharap aku akan menoleh padanya. 

*** 

Sadino berjalan melewatiku tanpa bicara sepatah kata pun. Kepalanya masih menunduk, dan dia melangkah dengan tergesa-gesa. Dia menghindari untuk bicara lebih banyak denganku. 

Aku mendengus. Sadino kini sudah menghilang dari pandangan. Aku berbalik dan memandangi langit yang ditunjuk Sadino. Sebenarnya, ada apa di sana? 

Aku bisa merasakan bahwa kedua mataku berbinar saat melihat langit malam ini. Langit yang cerah, gelap, namun mempesona. Ada ratusan bintang berkilau di sana, di tempat yang tak akan pernah bisa kusentuh. 

Angin dingin menghantam wajahku dengan pelan. Dinginnya menusuk rusuk, membalut wajah, leher, dan kulit kepalaku. Sebelumnya, hawa di sini tidak pernah sedingin ini. 

Aku mengambil bungkusan kecil dari kantung jaketku dan mengeluarkan sebatang rokok. Aku membakarnya dengan korek api gas yang daritadi aku genggam. Asap putih keluar secara perlahan dari mulutku, membuat bibirku bak dilanda kekeringan. 

Aku mengarahkan asapnya ke langit. Aku mengotori udara yang selalu dipuja Sadino. Aku mendengus, berharap agar perempuan yang kucintai memaafkan dosaku. 

Aku ingat. Saat itu, kami baru saling mengenal selama enam bulan. Aku mengajaknya ke sini, ke tempatku berdiri sekarang. 

Dia duduk di atas rerumputan yang basah. Dia tak peduli akan tanah dan air yang mengotori celananya. Aku berjongkok di sampingnya. Tiba-tiba, dia menunjuk langit yang terbentang luas di hadapannya. 

"Bintang itu paling terang. Aku menyukainya," katanya kala itu. "Aku mau tinggal di sana." 

"Itu bukan bintang, Sadino. Itu hanyalah gugusan gas," sahutku. 

"Kalau begitu, aku dan kamu akan jadi partikelnya. Kita akan hidup di sana, entah sebagai atom atau molekul. Kita akan menjadi unsur baku," jawabnya. 

Sadino menatapku. "Tapi, aku tidak akan kehilangan kamu di sana, 'kan?" 

Aku tidak menjawab. Aku memilih untuk diam. Aku melirik Sadino. Dia masih menatapku. 

"Kamu bisa kehilangan aku kapan saja," jawabku. "Tapi kamu bisa memilikiku kapan saja." 

Sadino tersenyum. Wajahnya terlihat lega. Dia memeluk kedua kakinya dengan erat. 

"Aku harap kalimatmu barusan adalah janji yang tak pernah terucap," katanya dengan pelan. 

"Hijikata," suara Sadino membangunkanku dari lamunanku. Aku sudah kembali ke realitas. 

Aku berbalik menatap Sadino. Dia sudah mandi dan sudah berganti pakaian. 

"Mana tehku?" tanyanya. 

Aku menepuk dahiku. "Aku lupa. Ayo, kita buat bersama."

Sunday, October 25, 2020

Sadino's Monologue #22



Keadaanku terdesak, El. Pembuluh darahku mengeras. Aku bisa merasakannya. 

Mimpiku seakan binasa tanpa tahu apa penyebabnya. Air mataku keruh, bibirku berdarah, mulutku menolak untuk bicara. 

Mungkin, ini aku yang mati rasa. Kelihatannya, aku terlalu sering digempur bayangan masa lalu yang seharusnya sudah musnah. Tidak, aku hanya mengubur mereka hidup-hidup. 

Dunia terlalu berisik untukku saat ini. Rasanya ingin sekali aku menebas kepala mereka yang banyak bicara. Sumpah serapah, adu mulut yang sebenarnya omong kosong, fitnah untuk kebaikan seseorang... Sungguh melelahkan. 

El, apa yang aku lakukan hingga menit ini? Aku pernah menyakiti hati seseorang. Aku pernah berbohong pada seseorang. Aku pernah meninggalkan seseorang. Semua orang melakukannya, dan mereka juga pernah melakukan hal itu padaku. 

Mungkin, aku sendiri yang memulainya. Mungkin saat itu, perasaanku sedang berserakan. Mungkin juga, aku mendengar sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat. 

Kamu benar, El. Aku sedang ingin berkawan dengan bayanganku sendiri. Aku sedang ingin menjadi saksi biksu kehancuran manusia. Ya, ini aku yang intuitif.  

Setiap malam, aku merasa tubuhku remuk dengan sendirinya. Aku seperti mendapat pukulan teruk dari belasan orang yang melampiaskan amarah dengan sengaja. 

Awalnya, aku tidak mempermasalahkannya. Aku mencoba untuk menerima. Tubuh ini hanyalah wadah untuk menampung luka, untuk saling membenci, dan dikorbankan hal-hal yang tidak pasti. 

Apa yang telah aku lakukan?
Kenapa aku ada di sini bersamamu, El?
Kenapa langit tiba-tiba memerah?
Kenapa ada senja?
Kenapa ada samudra?
Kenapa harus kita?
Kenapa harus aku? 


Dunia tidak terbalik. Hidup ini sudah sebagaimana mestinya. Mungkin, aku terlalu angkuh. Mungkin juga, aku terlalu merendah hingga bersatu dengan tanah yang mereka pijak. 
Mungkin, ini egoku yang tak terlahir kembali.

Wednesday, October 21, 2020

Sadino's Monologue #21



"Aku mengejarmu selama bertahun-tahun untuk menghancurkanmu, Sadino." 


Cerita ini adalah sebuah ironi. Tak bisa ditolak, tapi tak bisa aku terima. Mungkin, cerita ini adalah sebuah janji dalam mimpi. Mungkin dia hidup dalam oase di dalam pikiranku. Mungkin juga, dia telah lama mati berdiri di dalam sana. 

***

"Anjing," kedua mata London terbelalak. "Aku salah kirim email." 

Aku bisa melihat London menggigit rokoknya cukup keras. Asap putih dari rokok yang terbakar nyaris menghalangi pandanganku pada wajahnya yang panik. 

"Aku mengirimnya ke atasanku. Seharusnya aku mengirimnya ke Rifky. Goblok," London mengambil rokok dari mulutnya dan meletakkannya di asbak. 

"Memangnya, apa isinya?" tanyaku. 

London menggigit bibir bawahnya. "Laporanku yang belum selesai. Aku minta Rifky untuk menyelesaikannya, lengkap dengan pesan 'Selesein nih, pusing gua, bangsat'." 

Jarum jam dindingku menunjukkan pukul 01.12 pagi. London menggaruk-garuk kepalanya dan mendengus keras. "Aku harus tidur." 

Kalimat barusan lumayan mengejutkanku. London tidak pernah tidur sebelum dini hari. Manajemen waktunya untuk beristirahat cukup bermasalah, tapi dia nyaman dengan hal itu. 

"Kenapa kamu tidak pernah melarangku untuk tidak tidur pagi, Sadino?" tanya London sambil meregangkan tubuhnya. 


Kamu pikir, aku punya hak untuk melakukannya? 


"Seingatku, aku selalu memintamu untuk tidur cepat," jawabku. "Dan jawabanmu selalu 'Nanti, mau baca komik dulu' atau 'Habis ini, ya? Aku mau main game dulu'." 

London kembali mendengus. "Kenapa kamu tidak marah?" 


Dan percakapan ini mendadak menjadi menyebalkan. 


"Kenapa aku harus membuang tenaga untuk marah?" kataku. 

"Itu bentuk perhatianmu. Sadino yang galak adalah Sadino yang perhatian," kata London. 

"Sejak kapan tolak ukur itu tercipta?" ucapku seraya menyeringai. 

"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu," jawab London. "Mungkin ingatanmu sedang buruk." 

Tidak, aku ingat semuanya. 


"Ya, gih, tidur sana," kedua mataku kembali tertuju pada laptop. Aku sedang menonton serial Gintama.

London membakar sebatang rokok dan mengembuskannya dengan cepat agar dia bisa membalas omonganku. "Menurutmu, aku lelah, tidak?" 

"Sangat lelah," jawabku dengan kedua mata masih menatap layar laptop, memuja-muja Gintoki dan Hijikata dalam hati. "Kamu hanya tidur tiga sampai empat jam setiap hari, dan kamu bekerja sampai larut malam. Kamu memaksa otakmu untuk bekerja melebihi jam kerjanya." 

London memandangku sambil melepaskan kacamatanya. "Ya, kita sama." 


Aku menarik napas panjang, sadar bahwa mulutku telah salah berucap. 


"Sebenarnya, aku bisa mengerjakan laporan ini nanti siang di kantor," kata London sambil memainkan rokok di tangan kanannya. "Hanya saja, aku ingin merasakan seperti apa menjadi seorang Sadino yang selalu membuang waktunya untuk hal-hal yang menurutnya penting."
 
"Hiburan itu penting. Aku sedang memanjakan diriku sekarang," jawabku ketus. 

"Ah, kamu juga masih suka bekerja sampai dini hari," ucapan London seakan tak mau kalah ketus. 

"Mungkin, bekerja sudah menjadi hiburan buatku," balasku. "Jangan pedulikan sikapku barusan. Aku sedang menjadi orang yang keras kepala." 

London tidak menjawab. Tapi kedua matanya terus menatapku. 

"Mungkin ini juga bentuk relaksasiku," ujarnya. 

Aku memandangnya tanpa suara seraya menanti kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya. 

"Memandangimu adalah bentuk relaksasiku. Kamu yang sedang duduk di sana, di depan laptop, tertawa sendiri, dan memuja betapa kerennya Sakata Gintoki dan Hijikata Toshirou," kata London. 

London mengisap rokoknya dan mengembuskan asapnya dengan perlahan. "Tentu saja, sambil mempertanyakan kenapa aku begitu merindukan kamu padahal kita sedang bicara sekarang." 


Kumat. 


"Iya, teruskan saja," jawabku pendek. Mataku masih menatap layar laptop. 


"Oi, Sadino." 


Aku menekan tombol space pada laptop dan menatap London. London mengubah posisi duduknya; dia duduk bersila di atas sofa. Kedua pahanya menopang kedua tangannya. 


"Akan serindu apa aku padamu ketika kita sudah dipisahkan jarak dan waktu?" 


Aku tidak menjawab. Pertanyaannya benar-benar merusak suasana hatiku. 

"Saat aku sudah berada di sana, ketika aku pulang ke apartemenku, membuka pintu, dan tidak menemukanmu sedang duduk di sofa sambil tertawa karena kebodohan Gintoki dan Hijikata, seperti apa rasanya?"

Aku masih tidak menjawab. Kedua mataku masih menatapnya. 

"Dan saat aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 19.00 malam, lalu mengingat Jakarta sudah jam 02.00 malam, apakah kamu masih terjaga sambil mengingat-ingat wajahku?" 

"Mungkin," akhirnya aku menjawab dengan memberikan jawaban aman. "Mungkin, aku sedang menonton Gintama."

"Dan merindukan London sambil mencuri-curi pandang ke arah sofa yang kududuki sekarang," London mematikan rokoknya ke asbak. "Aku tidur duluan, ya." 

Kedua alisku terangkat. "Silakan."

London berdiri dan meregangkan tubuhnya. Sambil menggaruk bagian kepalanya, dia melewatiku dengan gontai. 

"Kamu beruntung," ucapnya seraya meraih gelas di meja kecil di samping laptopku. "Ada kehadiranku dalam bentuk ingatan di rumah ini. Di saat kamu rindu, kamu tinggal menoleh ke kiri." 

London menenggak habis air di dalam gelas. Dia kembali meletakkan gelas kosongnya di atas meja. "Sedangkan aku harus kembali berhadapan dengan kenangan yang selalu menghantuiku selama belasan tahun." 

"Apakah itu perlu?" tanyaku. 

"Ingatan itu datang dengan sendirinya, tanpa diminta. Aku kagum dengan inisiatif sebuah ingatan yang selalu datang tanpa permisi," jawabnya. 

London menguap dan menepuk-nepuk kepalaku. "Ironis. Padahal, aku yang selalu mencarimu." 

London menaiki tangga dan menghilang dari pandanganku. Aku kembali menekan tombol space dan kembali menonton Gintama. 

Tak sampai lima menit, ponsel pintarku bergetar. Aku menerima pesan dari London. 


"Sadino, kangen."