Monday, November 23, 2020
Sadino's Monologue #25
Sunday, November 22, 2020
Sadino's Monologue #24
Aku hanya bisa mendengus ketika mendengar namanya, El. Aku terlalu peduli, padahal sayap anak itu hanya patah sebelah.
Aku selalu menganggapnya seperti anak kecil, El. Tapi, anggapan itu didasari dengan apa yang aku lihat. Dia memang seperti itu, polos, tanpa memedulikan masa depan yang akan menghantamnya tanpa aba-aba.
Perkenalan kami singkat. Aku tidak pernah menyangka bahwa kami punya koneksi yang—sejujurnya—cukup menyebalkan. Tapi, aku tidak menyangkalnya dan aku menghargainya.
Aku hanya membantu di saat dadanya terus penuh akan hal-hal yang tak kasat mata. Aku hanya membimbingnya untuk menemukan jawaban atas kekalutan yang telah lama menggumpal.
Tidak mudah untuk berbincang dengan orang seperti Dove. Dia kerap memperpanjang masalahnya dan menutup diri dari dunia yang memberinya banyak cobaan. Dove memilih untuk menelantarkan pikirannya yang pada akhirnya, menggerogoti tubuhnya pelan-pelan.
Isi kepalanya butuh kesegaran, El. Aku hanya memberinya relaksasi dalam bentuk kalimat. Semacam, penetrasi menuju tahap yang lebih sulit, tapi dengan mempermudah perilaku otak untuk memberikan respons yang nyaman.
Sulit memang, mengubah cara berpikir manusia. Manusia akan berubah dengan sendirinya, dan aku percaya pendorongnya bisa berupa apa pun, mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang sukar untuk diyakini.
Dove butuh pengorbanan untuk itu. Aku memperlihatkan kesukaran itu. Untungnya, dia mengerti dan memutuskan untuk berjalan menyusuri semak belukar yang tumbuh liar di kepalanya.
Aku lega Dove mampu mengamini sebuah proses. Aku bersyukur Dove mau mendengar suara-suara yang menghancurkan dirinya.
Satu hal, Dove boleh tinggal di negeri dongeng. Tapi, bukan dongeng seperti di film-film klasik Disney, tapi dongeng yang ditulis oleh Brothers Grimm.
Aku harap, Dove lebih mendengarkan isi hatinya, El. Aku harap, dia mau mematahkan keinginannya untuk membuat orang lain nyaman di dalam pelukannya. Aku harap, Dove berhenti meratapi apa yang telah dia perbuat selama ini.
Kamu benar, El. Aku tidak merindukannya. Aku hanya khawatir dengan keadaannya. Aku adalah burung gagak yang takut melihat merpatiku terbang menjauh.
Saturday, November 21, 2020
Sadino's Monologue #23
Sunday, October 25, 2020
Sadino's Monologue #22
Wednesday, October 21, 2020
Sadino's Monologue #21
Monday, October 19, 2020
Sadino's Monologue #20
Jam tanganku menunjukkan pukul 20.32. Bumi berputar terlalu cepat untuk dilanda kesunyian, dan aku tidak menyukainya.
London juga merasakan hal yang sama. "Rumah ini perlu diberi suara," katanya.
London mematikan rokoknya ke asbak dan berjalan menuju piano tua di sudut ruangan. London pernah bilang, itu sudut favoritnya karena dia bebas berlagu sesuka hati di sana.
London duduk di atas kursi kayu di depan piano. Dia membuka penutupnya dengan perlahan, dan memperhatikan deretan tuts yang telah menunggu untuk disentuh.
London berdecak. "Aku ingin memainkan instrumental favoritmu. Tapi, aku lupa."
Aku berjalan mendekat dan memperhatikan kedua tangannya yang sudah mengepal. London kesal, karena dia benar-benar lupa.
Pandangan London beralih padaku. Dahinya mengernyit, seakan minta pertolongan.
"Kamu bisa mainkan lagu lain," kataku.
London menggeleng. "Aku mau memainkan instrumental favoritmu, bukan yang lain."
Ini kebiasaan buruk London. Untuk membuat orang-orang yang dia sayangi bahagia, dia nekat melakukan apa pun untuk mereka.
"Satu menit," London mendekatkan telunjuknya pada wajahku. "Jika aku tetap tidak ingat, tampar aku."
Aku mendengus. London mulai bersenandung sambil memejamkan kedua matanya, mencoba mengingat melodi yang hidup di alam bawah sadarnya.
"Oke," London meletakkan jemarinya di atas tuts dan tersenyum lebar. "Untuk bahagiamu."
Jemari London berhenti menyentuh tuts. Dia meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, dan kedua matanya menatapku.
"Aku harap kamu puas meski jemariku tidak lihai memainkannya," ucapnya. "Aku sering memainkan instrumental favoritmu saat aku sedang sendirian. Melodinya menenangkan, dan di waktu tertentu, dua menit yang kuhabiskan untuk menyelesaikan instrumental favoritmu ini berubah menjadi menyedihkan."
"Menyedihkan, atau menyakitkan?" tanyaku.
"Kamu mau yang menyakitkan?" London tersenyum tipis. "Versi lain dari lagu ini menurutku menyakitkan."
Jemari London kembali menyentuh tuts piano. Kali ini, dia memainkan versi lain dari instrumental favoritku dengan jauh lebih fasih meski temponya jadi sedikit lebih cepat.
London berkeringat saat dia menyelesaikan instrumental tersebut. London menyeka dahinya dan mendengus keras.
"Ini lebih sulit. Aku harus mati rasa untuk memainkannya. Permainanku berantakan," kata London sambil menggelengkan kepalanya.
Kedua alisku mengerut. "Kenapa harus mati rasa?"
London kembali menatapku. "Karena manusia harus mematikan rasa untuk menghilangkan kebingungan. Setelahnya, logika bekerja sesuai dengan realitas. Dari situ, hal-hal yang sebelumnya tak kasat mata dapat terlihat. Bukankah begitu, Sadino?"
Aku tidak menjawab dan hanya melempar senyum simpul.
"Instrumental favoritmu ini adalah emosimu, bukan?"
Ucapan London barusan membuatku jantungku berdegup kencang meski sesaat.
"Musik adalah bagian dari rutinitasmu, dan instrumental favoritmu adalah bagian lain dari hidupmu yang tak pernah kamu buka. Yang aku mainkan tadi adalah ekspresimu dalam bentuk nada. Itu suaramu."
Aku memilih untuk bungkam. Aku akui, pernyataan tersebut mengesankan.
"Kamu pikir aku tidak mempelajari kamu, Sadino?"
Mata kami beradu. Wajah London begitu yakin akan ucapannya barusan, seakan dia baru saja membawa pulang sebuah trofi yang terbuat dari emas.
"Apa yang kamu dapat dari risetmu selama ini?" tanyaku.
London menyeringai. "Kamu yang rapuh, kamu yang remuk."
London berdiri dan menepuk kepalaku. "Kamu, yang harus aku jaga baik-baik."
Sadino's Monologue #19
El, Londonku pamit. Dia sudah pergi.
Malam itu, aku pulang cepat. Aku ingin menemui Londonku. Aku sudah tidak sabar. Aku ingin menyentuhnya, aku ingin memeluknya, aku ingin bicara panjang lebar dengannya.
London berdiri di ambang pintu saat aku tiba di rumah. Dia menyambutku dengan senyuman dan membukakan pagar rumah untukku. Padahal sebelumnya, ketika aku pulang, London hanya duduk manis di depan laptop-nya sambil merokok.
"Pulang, yuk?" London mengajakku untuk menyambangi rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 00.12 malam.
"Aku pikir kamu sudah di rumah," jawabku sambil menaruh tas di atas sofa.
"Aku tahu rumahku di sana," London menunjuk dadaku dengan dagunya. "Tapi aku harus pulang ke rumah."
Aku paham, El. London ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengan keluarganya dan aku tidak melarangnya.
"Aku pikir, aku di sini saja. Besok pagi aku ke rumahmu," kataku.
"Rumahmu di sini," London menunjuk dadanya. "Aku bisa merasakan napasmu di sini."
***
London memutuskan untuk tidak pulang dulu. Kami berbincang dan tertawa hingga pukul 03.00 pagi.
"Kelihatannya aku benar-benar harus pulang," London berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Sampai bertemu di rumah keduamu, manis."
"Cha, nanti kita nyusulin London aja. Kita temenin dia, minta ditraktir di Harrods," katanya.
Aku hanya tersenyum hampa. Entah kenapa aku enggan untuk menyusul London ke luar negeri.
Mataku beralih pada London yang sedang sibuk memainkan ponsel pintarnya. Pagi itu, London mengenakan parka hijau army, kaus hitam panjang, skinny jeans hitam yang robek di bagian dengkul, dan sepatu Nike Air Force One putih favoritnya.
Di sampingnya, terdapat empat koper dengan warna yang berbeda-beda. Yang paling besar berwarna biru tua, dan London bilang isinya adalah sepatu-sepatu kesayangannya.
"Kamu tidak membawa buku-buku harianmu?" tanyaku.
London menggeleng. "Jaga mereka untuk aku, ya."
London mendengus dan menatapku. "Aku mau bicara. Mam, Chacha aku pinjam dulu sebentar."
Tante Elinda menepuk bahuku dan mempersilakanku untuk mengikuti London ke lantai dua, ke kamarnya.
London membuka pintu kamarnya dan menyuruhku untuk duduk di atas tempat tidurnya. London duduk di sebelahku, dan kami pun saling memandang.
London diam seribu bahasa. Dia menatapku, tapi tatapannya kosong. Pikirannya berkecamuk seraya mencari kalimat yang tepat dan pantas untuk diucapkan padaku.
"Kamu harus senang karena kamu mendapatkan hidupmu kembali sekarang," kata London. "Kamu tidak punya alasan lagi untuk pulang cepat dan memikirkan orang lain yang sedang menantimu di rumah."
Aku tidak menjawab. Aku pikir, ada baiknya aku menikmati drama yang sedang dipentaskan London.
"Aku tidak akan bicara banyak. Aku juga tidak akan menyakitimu dengan kata-kata. Keadaanmu sekarang sedang membunuhmu pelan-pelan. Aku tidak mau menambah masalah."
London mendengus. "Ini urusanku. Ini perasaanku, dan bukan urusanmu. Tapi perasaanmu, adalah urusanku. Aku hanya ingin kamu bahagia, dan aku tahu kamu punya cara untuk berbahagia. Aku tidak tahu bagaimana kamu melakukannya. Demi Tuhan aku ingin tahu. Tapi kamu, dan rahasiamu itu, tidak akan aku ganggu gugat."
London memamerkan telapak tangannya di depan wajahku. "Bahagiamu, kesedihanmu, kekecewaanmu, amarahmu, lukamu, di sini," dan London mengepalkan tangannya. "Di dalam genggamanku, dan aku menyimpannya untuk dijaga."
London mendengus untuk yang kedua kalinya. "Teruslah menjadi Sadino yang seperti biasanya. Sadino yang sok kuat, yang banyak tingkah, yang mahir menyembunyikan perasaannya. Kamu tidak sehebat itu, tapi kamu cukup pintar untuk melakukannya. Aku kagum."
"Aku sayang sama kamu," jawabku tanpa memikirkan efek dari kalimat barusan.
London terdiam. Kedua matanya menatap kosong lantai yang terbuat dari kayu. Ia mendongak, memandang pintu kamarnya yang terbuka lebar, dan berdecak.
"Terima kasih telah menjawab rasa penasaranku selama belasan tahun ini, Sadino."
***
"Kamu benar tidak mau ikut ke bandara?"
Ucapan Tante Elinda seakan memohon. Tujuannya, agar kondisi putranya tetap stabil.
Aku menggeleng. "Tidak, Tante. Nanti aku pesan Uber setelah kalian pergi."
London menepuk bahu ibunya, mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam mobil.
Hatiku hancur. Melepas kepergian seseorang yang ingin menggapai mimpinya seperti merelakan diriku untuk berhenti merokok. Padahal, berhenti mengisap racun berupa asap baik untuk kesehatan.
"Aku pergi," London menepuk-nepuk kepalaku. "Jangan rindu."
Aku berdecak dan menunduk. Ini berat.
"Heh," London menyentil dahiku. "Jangan begitu."
London menghempaskan dadanya pada wajahku. Wangi tubuhnya benar-benar menyebalkan.
London menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya pada telingaku dan membisikkan sebuah kalimat pemungkas.
"Aku lebih hancur dari kamu."
London mengecup pipiku dan melepaskan pelukannya. Dia kembali menunduk dan menatapku, menyisakan jarak dua jengkal di antara kami.
"Sampai kapan pun, kamu tetap si cantik punyaku," bisiknya. "Aku meninggalkan sesuatu di ponsel pintarmu. Tolong dicari."
London berbalik dan berjalan menuju mobil. Tanpa menoleh ke belakang, London masuk ke dalam mobil dan menutupnya dengan kencang. Aku melambai pada mobil yang perlahan bergerak maju, dan tetap berdiri di tempat hingga mobil SUV yang dikendarai ayahnya menghilang dari pandangan.
Aku menarik napas panjang. Tanganku bergerak mencari bungkus rokok di saku celanaku. Aku mengambil sebatang rokok, dan membakarnya dengan tangan yang gemetar.
Asap putih menyembur dari mulutku. Aku berdecak, seraya menyiapkan mentalku untuk berdamai dengan kekecewaan yang baru saja terjadi. Aku tidak siap, tapi London memaksaku untuk menerima pahitnya ucapan selamat tinggal.
Sunday, October 18, 2020
Sadino's Monologue #18
Kalimat itu adalah quote dari Rune Lazuli. Dan kalimat itu ditulis oleh London di buku hariannya baru-baru ini.
Sadino's Monologue #17
El, aku akan mengajakmu berjalan-jalan sebentar. Mau, ya?
Angin dingin pada malam itu tidak menghentikanku untuk pulang ke rumah. Hujan terus turun seakan tak mengenal waktu, membasahi bumi, dan pikiran mereka yang sedang bermimpi.
Bukan main bahagianya aku ketika aku melihat London berdiri di ambang pintu. Dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, London tersenyum tanpa suara, menyambutku yang sudah tidak sabar untuk segera didekapnya.
Ujung bibirku bergerak dan aku sadar aku sedang membalas senyumnya. Dengan cepat, aku membuka pintu pagar rumahku, menutupnya, dan menghampiri London.
Sebatang rokok terselip di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. London menundukkan kepalanya agar bisa melihatku yang tengah semringah dengan jelas. Bola matanya yang hitam seakan berbinar di mataku.
Aku seperti anak kecil yang baru saja pulang sekolah dan sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan ibuku, kala itu. Kedua tanganku menggenggam erat tali tas yang melingkar di bahuku, mencoba meringankan beban di punggungku yang sudah aku pikul sejak satu jam yang lalu.
Bibirku bergerak untuk menyapa London, tapi dia memotongku.
"Aku pergi akhir pekan ini."
Mata kami saling menatap. Mulutku terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Aku mendadak bisu.
London masih menatapku tanpa suara. Dia masih tersenyum, seakan apa yang ia ucapkan barusan bukanlah hal yang penting. Dia terlihat tenang, seperti London yang tak punya beban.
"Biasanya, emosimu langsung memuncak saat mendengar hal-hal yang tidak ingin kamu dengar," London menyindirku. Suaranya masih terdengar tenang seperti biasanya.
Aku sadar kedua mataku terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku menundukkan wajahku dengan cepat, dan kini kedua mataku menatap lantai tempatku berpijak. Aku perhatikan sepatu putihku yang kotor. Aku pikir, aku harus mencucinya. Tapi, pikiranku kosong, entah apa yang aku pikirkan.
Mendadak, aku mati rasa. Seperti terkena serangan jantung secara mendadak, jantungku seperti diremas dan dirobek di saat yang bersamaan. Pedih, tapi tak berdarah.
Hening. Kami tak bersuara. Angin menerpa tubuhku, entah itu sindiran atau bukan. Mungkin, angin mengisyaratkanku untuk segera menjawab pertanyaan London. Tapi, aku tidak punya jawaban. Mendadak, aku buta aksara.
Aku tidak tahu apakah London masih menatapku atau tidak. Dia tidak bergerak, dan tubuhnya masih bersandar pada pintu.
"Yang rapuh itu bukan cuma kamu."
London berjongkok. Kepala menengadah melihatku. London masih tersenyum, tapi air matanya telah membasahi pipinya.
"Hatiku, pikiranku, dan tubuhku, ternyata jauh lebih rapuh dari kamu."
Air mata London bergerak turun ke dagunya, seakan berlomba, siapa yang akan membentur tanah terlebih dahulu. London terlihat berusaha tenang. Dia berulang kali mengatur napasnya. Tapi, kekecewaan dan kesedihannya meronta ingin diperlihatkan. Dia tidak bisa menahannya, dan pada akhirnya, London membebaskan mereka.
Tangan kananku bergerak. Jemariku kini menyentuh rambutnya yang acak-acakan, mencoba merapikannya, tapi percuma. Aku menelan ludah dan menarik napas panjang, mencoba menjinakkan emosiku yang sudah tidak karuan.
Ternyata, aku tidak bisa. Aku menyerah. Wajah kami sama-sama basah sekarang.
"Setelah bertahun-tahun lamanya, aku menemuimu hanya untuk berpisah denganmu,"
kata London.
"Selama ini, waktu yang aku buang untuk kamu ternyata masih belum cukup.
Ternyata, aku masih rindu."
"Mungkin aku dikutuk.
Karena di saat aku menatapmu seperti ini, aku masih merindukan kamu."
"Aku ingin tidur, London," ucapku tiba-tiba. "Aku lelah."
"Silakan, kalau kamu bisa," London berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Tapi janji, hari ini kamu bisa tidur pulas."
Aku tidak menjawab dan kembali menelan ludah. Aku benar-benar kehabisan kata-kata.
"Aku tidak perlu jawaban dari kamu, Sadino," London menjawab pertanyaan di pikiranku. "Aku hanya butuh kamu. Kamu yang kuat, kamu yang mandiri."
London mempersilakanku masuk ke dalam rumah, seakan-akan ini adalah rumahnya. Aku berjalan masuk, menaruh tasku di sofa, melepas jaketku, dan melemparnya ke sebelah tasku.
"Tunggu. Aku punya pertanyaan dan aku perlu jawabannya," kata London sambil menutup pintu.
Aku menatapnya dengan kedua alis terangkat. London bersandar pada pintu yang barusan dia tutup dan kembali melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Kenapa Sadino yang biasanya acuh tak acuh pada London,
berdarah lebih cepat saat London mengucapkan selamat tinggal?"
Sadino's Monologue #16
Rasa itu rumit ya, El?
Teruntuk sebuah rasa, aku merasa gugup. Aku sudah lama tidak merasakan hal ini. Oh, aku tidak akan mengatakannya padamu, El. Toh, kamu juga sudah tahu.
Aku tidak bisa mendefinisikan sebuah rasa. Rasa itu mengalir, kadang meneduhkan, kadang menghancurkan. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan sekarang. Mendadak, aku merasa seperti buta bahasa.
Mungkin, aku sudah mati rasa terlalu lama, El. Aku bingung harus mulai dari mana untuk membenahi hal ini. Apakah aku harus menerima dan menelan semua hal yang berkaitan dengan perasaan, atau menolaknya dengan sopan.
Kelihatannya, aku telah mengabaikan perasaanku dalam waktu yang cukup lama. Aku menjadi tidak peka, berbuat semauku, dan bicara sesukaku.
Aku selalu mendahulukan orang lain, El. Aku—kalau boleh jujur—nyaris tidak pernah memikirkan perasaanku sendiri.
Aku pikir, tidak ada manusia yang mau mendengarkan cerita manusia lain dengan tulus. Kalau pun hal itu dilakukan, manusia melakukannya untuk menuntaskan rasa ingin tahu mereka atau hanya sekadar disebut 'perhatian'.
Aku tidak ingin bicara banyak mengenai rasa. Meski aku ingin mengelaborasi apa yang aku rasakan saat ini, aku lebih memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.
Alasannya, karena aku mudah terluka, El. Menjabarkan sebuah rasa sama dengan menguliti diri seseorang hidup-hidup.









