Friday, October 16, 2020

Sadino's Monologue #14



“Don't cry while you are reading the book, wait until you are done reading it.”
― Alice Hoffman, "The Dovekeepers"


Hoffman benar, El. Cerita tentang aku dan Dove belum selesai. Kami masih mencoba untuk memanfaatkan waktu yang tersisa. Kami masih berusaha. 

Ada satu hal yang belum bisa aku ungkapkan pada Dove, El. Kemungkinan besar, aku tidak akan mengatakannya. Alasannya? Karena omonganku akan menghancurkan sebuah persepsi, El. 

Sejak dulu aku bingung, El. Apakah aku harus berempati, atau bersimpati pada Dove.

Oh, Doveku yang malang, Doveku yang rapuh.
Apa yang harus aku lakukan? 

Terekam dengan jelas di kepalaku saat matanya berbinar ketika mendengar musik favoritnya. Bagaimana dia menyikapi sesuatu yang tidak bisa dia kontrol, bagaimana ketakutannya akan masa depan menghancurkan pikirannya secara perlahan. Aku ingat itu, El. 

Tidak, Dove bukan orang yang manja, El. Sekali lagi aku ingatkan, dia hanya membutuhkan bimbingan. Dia hanya ingin jalan keluar. Dia hanya ingin melihat dunia dari perspektif yang berbeda. 

Aku memang bukan jawabannya, El. Kehadiranku adalah sebuah ancaman, dan aku sadar betul akan hal itu. Hanya saja, aku memilih untuk ditaklukkan, bukan untuk dikenang. 

Aku akan terus berdiam diri di sudut yang ia buat, El. Tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu di luar kendali. Tidak, El. Aku tidak akan menunggu untuk terluka lagi. 

Karena menurutku, Dove yang akan terluka hingga berdarah-darah, El. Dan aku akan ada di sana untuk membersihkan lukanya.

Sadino's Monologue #13



“Talk sense to a fool and he calls you foolish.” ― Euripides, "The Bacchae" 


Aku benar-benar tidak tahan dengan orang bodoh, El. Aku mengutuk mereka yang berlagak pintar, seakan dunia berada di dalam genggaman. 

Aku ingin si tolol ini bertukar posisi, El. Saat dia berada satu level di bawah tanah, aku yakin dia tidak akan bisa bernapas. Alih-alih mencari jalan keluar, orang seperti dia pasti hanya akan berteriak minta tolong. 

Dunia ini ganas, El. Dan aku berpijak di atas tanah yang ditinggali oleh mereka yang kemampuannya di bawah rata-rata. Apa yang menjadi indikator mereka untuk tetap hidup? Apakah kebodohan adalah target utama pencapaian mereka selama ini? 

Aku hanya bisa menerka, El. Aku tidak mau terjun bebas ke dalam jurang keangkuhan. Aku pernah dipeluk oleh kegelapan, dan aku berusaha keluar dari sana. Jika aku memilih untuk pasrah, lebih baik aku mati cepat, El. 

Semua hal yang dilakukan manusia di saat mata mereka terbuka lebar menantang dunia adalah bagian dari sebuah regulasi, El. Tentunya, untuk menduduki puncak dari sebuah teori, manusia harus mempelajarinya terlebih dahulu. 

Aku pikir, manusia harus mempelajari diri mereka sendiri, El. Mereka harus tahu batas, mereka harus tahu tingkat kesabaran diri mereka sendiri. Jika mereka tidak mengetahuinya, untuk apa menggurui orang lain yang lebih pintar? 

Sekarang, aku dikelilingi oleh mereka yang angkuh akan kekurangan diri mereka sendiri. Lagi-lagi, aku baru saja menelan racun paling mematikan di muka bumi. Aku tidak mau isi kepalaku ternodai akan hal-hal yang semu, El. Aku tidak mau mati dalam keadaan terdesak. 

Aku tahu kamu akan hanya menggeleng-gelengkan kepalamu, El. Integritasku sebagai manusia mengalami gangguan, dan orang-orang inilah penyebab utamanya. Aku ingin isi kepala mereka dibenahi, dirapikan sedikit agar mereka tidak terlihat memalukan. 

Bukan urusanku, memang, dan aku juga tidak akan terpengaruh untuk menelan apa yang mereka perbuat. Hanya saja, aku benci dengan kinerja otak mereka demi mendapatkan gelar "seorang pahlawan yang bijaksana dan bertanggung jawab". 

Dia yang tidak tahu diri, El. Dia yang seenaknya menciptakan sebuah aturan yang tidak bisa dia turuti. Dia tidak akan sanggup melakukan apa yang menurutnya logis. Saat dia melakukannya, aku yakin dia akan berubah menjadi seekor binatang yang siap mati penasaran. 

Goblok, kok, dipelihara. 

Sadino's Monologue #12


Mataku lelah, El. Pikiranku juga.
Ini yang dinamakan sebagai "hadiah dari Yang Kuasa?" 

Bukannya aku tidak bersyukur, El. Aku sudah melewati fase itu, dan aku sudah bisa menerima bahwa aku berbeda dengan mereka. Aku bisa melihat warna yang tidak dilihat orang-orang, dan aku terima itu. 

Sebenarnya, aku tidak ingin mengumbar hal ini, El. Hanya saja, aku muak dijadikan berhala oleh mereka yang tak tahu diri. Ada beberapa hal yang tidak bisa diartikan oleh manusia, dan sebagai raga yang hidup, kita harus menerimanya. Itu riil. 

Jangan menjadi seorang manusia yang bodoh dengan hanya memikirkan diri sendiri. Jika sudah bertemu jalan buntu, manusia menyebutnya dengan "takdir". Apa salahnya untuk berjalan mundur atau menoleh ke belakang, daripada duduk termenung menunggu bantuan? 

Manusia itu tidak pernah salah. Kami selalu benar. Asal, manusia mau mengesampingkan dogma. Tapi, dogma lahir dari persepsi manusia akan kehancuran dunia. Untuk terhindari dari ketakutan itu, lahir sebuah norma sebagai panduan untuk menjadi "manusia yang baik". 

Tapi, manusia itu tamak. Mereka ingin mendahului waktu. Mereka ingin tahu seperti apa masa depan mereka nanti. Mereka ingin tahu rahasia orang lain. Mereka gemar mencongkel keburukan orang lain, dan aku muak dengan itu, El. 

Akhir-akhir ini, aku kesulitan untuk mengontrol keinginanku untuk bertanya. Aku tidak berniat membantu, melainkan penasaran-- kenapa mereka mempersulit keadaan dengan memikirkan hal-hal di luar realitas? Secara tidak langsung, mereka adalah kaum radikal. Tapi--tentu saja--hal itu tidak akan pernah mereka akui. 

Sekalinya aku bertanya, aku digempur dengan pertanyaan lain yang kadang menghancurkan sistem kerja otakku. Dalam waktu singkat, mereka berubah menjadi pengikut paham nihilisme. Aku tidak melarang dan tidak menyalahkan. Tapi, kenapa aku? 

Karena aku bertanya kepada mereka, El? Aku hanya membimbing mereka untuk menemukan solusi. Aku hanya mengajak mereka berputar-putar di tempat yang sama, hingga jawaban yang mereka harapkan muncul di dalam pikiran mereka sendiri. 

Garis bawahi itu, El. Aku tidak memberi mereka solusi, melainkan mengantar mereka ke pintu keluar dengan usaha mereka sendiri. 

Untuk beberapa orang, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi, sisanya, mereka tahu apa? Mereka tidak mengenalku, mereka tidak berhasil menembus garis pertahananku. Aku sangat selektif, El. Bukan berarti aku pilih-pilih orang dan tak mau berhubungan dengan mereka, tapi aku tidak mau dibutakan dengan rasa peduli yang mengatasnamakan loyalitas. 

Aku hanya berbagi dengan beberapa orang soal ini, Elohim. Kamu pasti paham. Aku tidak mau terkontaminasi racun yang tidak mengandung moralitas. Aku melakukan ini demi kebaikanku sendiri. 

Kenapa manusia mudah percaya dengan hal-hal yang menjanjikan? Padahal, mereka mudah untuk mengingkari sebuah janji. Rasanya, aku seperti sedang berkubang dalam kolam darah dari sebuah pembunuhan massal. Ini pembohongan publik, namanya. 

Otak dan mataku tidak pernah berhenti bekerja, El. Aku ingin istirahat, pergi jauh dari hingar-bingar kota yang penuh polusi dan sakit hati. Tempatku lahir adalah kota yang marah, dengan penduduknya yang gemar menghabiskan waktu demi mendapatkan kebahagian dengan menghalalkan segala cara. 

El, kamu pasti sedang berpikir kenapa pembicaraanku tiba-tiba meluas dengan sendirinya. Kamu pasti sadar, semua itu berkaitan dan efeknya cukup besar dan sensitif. Aku berada di tengah-tengahnya, berusaha menyelamatkan diri dari peluru-peluru yang ditembakkan secara asal. 

Aku butuh bantuanmu, El. Kamu mentorku. Lindungi aku dari mulut-mulut yang saling beradu. Selamatkan "hadiah dari Yang Maha Agung" yang bersemayam cukup lama di dalam diriku. Genggam jiwaku, dengarkan batinku. 

Tidak, El. Aku tidak akan meminta agar "hadiah" ini dikembalikan. Aku terpilih untuk menjadi saksi bisu akan indah dan kejamnya kehidupan, dan aku mensyukuri hal itu. Hanya saja, bumi berotasi, begitu juga mereka yang berpijak di sana. Dalam satu tarikan napas, aku sudah bisa menerka, apa arti dari sebuah kehancuran yang sebenarnya. 

Izinkan aku melebur untukmu, El. Aku meminta untuk dituntun. Karena hanya kamu yang mengerti aku.

Sadino's Monologue #11




 El, aku jatuh cinta pada hal-hal yang berhubungan dengan kesukaran.
Kamu tahu itu.

Mungkin ini alasan kenapa aku menaruh rasa padanya. Bukan, orang ini bukan London. Bagaimana kalau kita panggil dia dengan sebutan "Bobcat"? 

Ada alasan kenapa aku ingin memanggilnya dengan nama binatang itu, El. Aku pernah membaca buku spiritual tentang hewan, judulnya "Animal Speak: The Spiritual & Magical Powers of Creatures Great and Small". Buku itu ditulis oleh Ted Andrews dan dijual ke pasaran sekitar tahun 2002. 

Agak sulit mencari buku itu. Tapi untunglah, teknologi semakin berkembang, dan aku bisa membacanya secara online.

Bobcat adalah predator yang bentuknya seperti kucing raksasa. Ukurannya lebih kecil dari singa dan harimau, kurang lebih seperti lynx. Menurut "Animal Speak: The Spiritual & Magical Powers of Creatures Great and Small", bobcat melambangkan kesendirian, bentuk penglihatan yang jelas, dan rahasia. 

Berdasarkan paham totemisme, bobcat melambangkan fleksibilitas, rasa ingin tahu terhadap diri sendiri, cenderung misterius, penuh teka-teki, elusif, dan tahu bagaimana menjalani hidup. Ini sesuai dengan sosok yang aku sebut sebagai "Bobcat". 

Tapi, Bobcat yang satu ini rapuh, El. Dia rentan, dan terlalu tunduk pada sekitarnya. Kadang, dia ingin bebas tanpa syarat. Namun, dia tidak punya keberanian untuk melangkah, El. Dia terpatri pada lingkungannya. Dia terlalu lama diselimuti oleh cinta dari lingkungannya, dan kau tahu kalau itu hanya sementara, El. 

Apa? Aku harus mengganti namanya? Bukan Bobcat? Kau pikir, sebutan itu tidak cocok dengannya? Kalau begitu, bagaimana dengan Dove? 

Dove atau merpati melambangkan kepercayaan, kesederhanaan, dan kepolosan. Aku rasa, omonganmu ada benarnya juga. Dove juga melambangkan individu yang rentan. Baiklah, aku setuju, El. 

Sesuai dengan paham totemisme, Dove adalah simbol ketenangan dan kedamaian. Ini sesuai. Tapi menurutku, dia terlalu tenang, El. Dia cari aman. Dove yang satu ini tidak mau melepas topengnya, kecuali dalam keadaan terdesak. 

Lalu, kenapa aku menaruh hati pada Dove? Karena, bagaikan seekor merpati yang dimangsa kucing hutan, Dove adalah sosok misterius yang rentan. Bukan berarti aku menyukainya, El. Tapi, energi kerentanannya sukar dipahami. 

Dalam tidurku, aku kerap mendengar jeritan minta tolong dan itu suara Dove. Doveku yang malang-- dia tidak bisa menghadapi dirinya sendiri. Terlalu banyak hal yang dia pikirkan, dan rata-rata tidak penting. Dove tidak bisa membedakan prioritas untuk keselamatan dirinya dan orang lain. Dove butuh dibimbing, tapi secara kasat mata. 

Aku pernah membantunya, dan aku tidak akan melakukannya lagi. Kecuali, jika dia berani untuk meminta padaku. Hidupnya bukan urusanku, El. Meski menarik untuk disimak, aku tidak mau mempersulit diriku sendiri. 

Ada satu hal dari Dove yang aku jadikan pelajaran berharga-- jangan pernah menunggu untuk terluka. Jangan menunggu sampai sayapmu patah, karena ketika kamu harus terbang, kamu hanya memperburuk keadaanmu. 

Kamu tahu dia, Elohim. Kamu pernah melihatnya. Mungkin sering. Dan aku tahu, kamu ingin memeluknya, bukan? Aku setuju, El.

Thursday, October 15, 2020

Lou


"...Got me thinking, been a long time, since the last time, I feel sincerely loved. Got me thinking, how could I still feel the vibe, while I don't even remember, how does it feel?"

Bagian pertama lagu "Thinking, Thinking" milik Teddy Adhitya itu membuatku terpaku. Musiknya mengalun lembut di telingaku, membangkitkan memori akan seseorang yang pernah hidup bersamaku beberapa waktu lalu.
Aku mendengarkan "Thinking, Thinking" dari ponselku menggunakan headphone sambil duduk sendirian di dermaga yang tak lagi terpakai. Tak ada suara lain di sini, selain lagu yang kudengarkan dan tenangnya suara ombak.
Emosional sekali aku, dan ini masih pukul lima pagi, pikirku dalam hati. Aku nyaris menyalahkan Teddy Adhitya akan kehadiran "Thinking, Thinking". Alasannya, lagu tersebut merepresentasikan apa yang aku rasakan selama satu bulan terakhir ini, dan itu menyebalkan.
Aku menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Bau air laut membuatku tenang, setenang orang itu saat dia menghancurkan hidupku di tempat sini.
"Aku tidak punya pilihan. Ini mimpiku, dan aku tak mau kau menungguku," kata dia kala itu.
"Persetan dengan waktu. Kau hanya ingin menyerah dan aku mengerti," ucapku.
"Kau tidak akan pernah mengerti. Aku hidup untuk membuat mimpi-mimpiku menjadi nyata, dan mimpi setiap orang berbeda. Kau tidak akan bisa memahami mimpi-mimpiku, dan aku tidak memaksamu untuk itu. Mengertilah, aku akan pergi jauh darimu dan aku tidak bisa menjagamu."
Aku membuka mata. Jantungku berdegup cepat mengingat betapa tenangnya dia saat memutuskan semuanya sendiri. Dia bahkan tak menatap wajahku saat mengatakannya. Setelah aku menganggukkan kepalaku untuk menuruti permintaan terakhirnya, dia pergi tanpa menoleh padaku. Dia benar-benar meninggalkan aku sendiri, di tempat aku duduk sekarang.

"I think I wanna be loved again. I just wanna feel love again. I miss the feeling of a hug, even I'm not hugging. I miss the feeling of a kiss, even when you're far away."

Sialan sekali bagian ini. Andai saja waktu itu, Rayi tidak bilang padaku kalau Lou sedang berada di kota ini, aku tak mungkin memikirkannya sampai sekarang.
Aku tak ingin bertemu dengannya. Dendam itu masih ada meski aku dan Lou tak lagi terikat. Lucu, mengingat aku merasa sudah memaafkannya dengan tulus.
Semalam, saat aku tiba di rumah, adikku bilang Lou datang seorang diri. Sekitar, dua jam sebelum aku pulang. Tololnya, adikku mempersilakan Lou untuk menungguku di rumah. Untungnya, Lou sadar diri untuk tidak menungguku pulang. Dia pun pergi setelah bercakap-cakap sebentar dengan adikku.
"Kau masih marah padanya?" tanya adikku. Dia menatap kedua mataku.
"Entahlah. Aku pikir, kami tak perlu bertemu lagi dan saling bertanya kabar. Itu tak penting," jawabku.
"Bagaimana jika hal itu penting untuk Lou?" adikku kembali bertanya.
"Aku tak mau berdebat soal ini," aku tersenyum dan berjalan menuju kamarku.
Adikku sempat mencegahku pergi dengan mengatakan, "Kau tak mau tahu apa yang aku bicarakan dengan Lou?" Aku membalasnya dengan menggeleng dan berlalu.
Kehadiran Lou-lah yang membuatku pergi diam-diam dari rumah pada pukul tiga pagi. Aku tak bisa tidur. Aku tidak mau Lou kembali mencariku. Melewati satu tahun tanpa Lou, melelahkan sekali rasanya. Aku sudah berusaha keras melupakanya, dan aku tidak mau kehadirannya menghancurkan usahaku selama ini.
Tapi, aku tahu dia. Lou adalah orang yang mau berusaha keras agar impiannya tercapai. Dia tak akan semudah itu menyerah. Dia pernah bilang, "Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya."
Dan itu yang Lou lakukan saat dia pertama kali bertemu denganku.

"Got me thinking, how come I never feel the same?
Why is it so hard to find the one, again?"

Lagu "Thinking, Thinking" berhenti mengalun beberapa detik setelah bagian itu. Aku menarik napas panjang seraya melepas headphone dan menaruhnya di sampingku, tepat di atas ponselku. Kepalaku menoleh pelan ke kanan, dan pikiranku tentang Lou terbukti.
Aku dan Lou saling menatap. Dia memandangku tenang. Entah pukul berapa sekarang, yang jelas langit sudah tak begitu gelap dan aku bisa melihat Lou dengan jelas. Wajah yang kurindukan, wajah yang tak ingin kulihat.
Tak ada yang bicara. Kami masih saling memandang. Ombak masih bergerak tenang, berdebur pelan seakan mengerti bahwa mulut kami berdua butuh waktu untuk mengeluarkan suara.
Lou melirik ke arah ponselku. "Kau tak akan tahu aku sudah duduk di sini dari tadi jika aku tidak mematikan lagu yang sedang kau dengarkan. Password-mu ternyata tak pernah berubah."
"Ya, tanggal ulang tahunmu. 061288," ucapku.
Kami kembali bergeming. Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri sekarang. Ternyata, kami masih berada di dalam frekuensi yang sama.
"Sama seperti lagu yang kau dengarkan terus daritadi," Lou menatap ke arah semburat matahari di depan kami. "How could I still feel the vibe? We didn't talk to each other for a long time. Aku bahkan tahu kau pasti di sini pagi ini. Kalaupun kau tak ada, aku akan menunggumu di sini sampai kau datang."
Aku menatap laut yang membentang luas di hadapan kami. Matahari sudah mengintip. Tanpa suara, aku menaikkan pundakku, sebagai tanda aku tak paham apa yang terjadi di antara aku dan dia sekarang.
Lou menghela napas. "Aku masih di sana. Tidak pernah berubah, dan tidak pernah tidak memikirkanmu."
"Tidak hanya kamu yang sulit berdamai dengan banyak hal. Aku pun bersusah payah berdamai dengan diriku sendiri. Aku membenci diriku yang telah mengorbankan banyak orang demi menggapai mimpi, termasuk kamu. Sampai akhirnya, aku bisa memaafkan diriku."
"Berpisah dengan oang-orang terbaik di hidupku dan tinggal di luar negeri itu sulit, Sa. Aku melakukan semuanya sendiri. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru, kebiasaan baru, dan budaya baru. Kerja kerasku pun terbayar. Aku keluar sebagai pemenang."
Aku tersenyum tipis. "Lalu, untuk apa kamu kembali ke sini?"
Lou menatapku. "Untuk mengejar mimpiku yang lain. Untuk kembali menjadi pemenang. Mendapatkan kamu, dan kembali hidup bersama kamu."

Sunday, August 30, 2020

Sadino's Monologue #10

 



“There were others, different perspectives where different things

have meaning that were just as valid.” ― Alan Moore. 



Quote komikus Alan Moore itu benar adanya, El. Moore mengatakannya setelah dia mengalami efek dari sebuah substansi tertentu. 

Aku ingat malam itu, El. Aku sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidurku, entah sudah berapa jam aku tidak bangkit dari sana. Aku terus membakar rokokku, dan rasanya hambar. 

Lagu "Change" milik Banks terus mengalun, memecah-belah pikiranku menjadi beberapa bagian. Kamar tidurku dipenuhi asap, tapi aku tidak peduli. Jendela kamarku tertutup rapat, dan AC kubiarkan terus menyala. 

Cahaya dari lampu hias LED berpendar di langit-langit kamarku, meminta untuk dipandang. Sambil menggumamkan bait-bait terakhir "Change" yang tidak berlirik, aku menutup mataku dan meresapinya. 

"Kamu gila, Sadino," bisikku pada diriku sendiri. "Kamu gila." 

Dengan mata terpejam, aku bicara sendiri. Hal-hal yang tidak masuk akal seakan nyata. Segala hal yang bertentangan dengan norma menjadi lumrah. 

Tanpa diminta, punggung tanganku bergerak dan menyentuh dahiku. Aku berdecak berulang kali, menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsuku. Aku ingin bunuh diri. 

Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Fuck you," bisikku, lagi-lagi pada diriku sendiri. 

Aku bangkit dari tempat tidurku, berdiri, dan menggeleng. Abu rokok yang telah memanjang jatuh ke lantai. Aku menatapnya, dan menghiraukannya. 

Aku duduk di pinggir tempat tidur dan menengadah. Aku ingin berteriak. Lagi-lagi, aku menahannya. Aku tidak akan membiarkan tubuhku merasa bebas. Dia harus tahu diri, karena jiwaku bukan jiwa sembarangan. 

Aku menggaruk bagian belakang kepalaku seraya mematikan rokok di asbak di samping tempat tidur. Aku kembali membakar rokok dan menaruhnya di atas asbak, membiarkannya terbakar tanpa tujuan. 

Telapak tangan kananku menghantam wajahku cukup kencang. Kini kedua tanganku bergerak-- mereka menjenggut rambutku. Mendadak, aku merasa tolol. 

Aku menatap jam dinding di atas pintu kamarku. 02.15. Malam masih panjang, dan aku sudah mati rasa. Aku mengeluh dalam hati, menyesali sesuatu yang tidak aku lakukan. Pandanganku kabur, saturasi mataku menurun drastis. Aku bisa merasakan pupil mataku melebar, dan jantungku berdetak semakin cepat. 

Rasanya seperti sedang melawan gravitasi. Rasanya, aku baru saja mengalami deformasi. Aku mengambil rokokku, mengisapnya dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan cepat. 

Aku menyeret tubuhku ke depan cermin. Tanpa diminta, aku menyentuh bayanganku di sana. 

"Kamu dehidrasi, Sadino?" ucapku pelan. Tiba-tiba, aku ingin menghardik diriku sendiri. 

Aku tahan keinginan itu. Gigi-gigiku saling beradu, mengeluarkan bunyi seperti engsel pintu yang sudah lama tidak diberi minyak. Aku ingin meninju bayanganku di cermin. Aku benci melihat diriku. Aku muak melihat wajahku sendiri. 

Ponsel pintarku berdering. Dengan lunglai, aku mencari sumber suara. Aku mengacak-acak tempat tidurku dan kutemukan ponsel pintarku yang menyebalkan itu. 

"Sadino," sapa seseorang. "Aku di bawah." 
"Tolol," dan aku matikan telepon. 

Aku melempar ponselku ke tempat tidur dengan kasar. Mendadak, tubuhku lemas. Aku bisa merasakan tulang-tulangku seperti terkikis. Mereka saling menggesek dan mengeluarkan suara seperti berderit. 

Seseorang membuka pintu. Tangan kirinya mengibas asap yang menghalangi pandangannya. Aku sadar aku menatapnya dengan liar. Tapi, saat aku tahu siapa orang ini, mulutku bergerak dan aku tersenyum. 

Lelaki yang tadi berada di ambang pintu kini sudah berada di dalam kamarku. Ia menutup pintu dengan pelan, dan melihat ke sekeliling. 

Sudah sejak lama aku mengagumi sisi kiri wajahnya. Hidungnya terlihat lebih mancung saat ia memandang langit-langit, dan anting hitam di telinga kirinya membuatku mendengus. 

Rambutnya tidak seperti lelaki-lelaki kekinian yang sisi kanan kirinya dicukur setipis mungkin dengan bagian atas rambut dibiarkan tebal dan diolesi pomade. Lelakiku ini membiarkan rambut tebalnya tumbuh bebas, dan aku bisa membayangkan bagaimana dia mengacak-acak rambutnya sebelum membuka pintu kamarku. 

London berjalan ke arah speaker di atas meja yang berada di dekat jendela dan mengecilkan volume suara. Kedua tangannya mendorong jendelaku secara perlahan, membiarkan angin malam menyeruak masuk ke dalam kamar. 

Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, London menaiki tempat tidurku, mengambil sebatang rokok dari atas meja di samping tempat tidur, dan membakarnya. Sambil merebahkan dirinya, London menatapku tajam. Tatapannya menembus asap tebal yang baru saja ia embuskan dengan perlahan. 

Tangan kanannya menepuk-nepuk sisi kosong tempat tidur di sebelahnya. Di saat yang sama, kepala London bergerak seakan menunjuk sisi kosong itu. 


"Kemari, Sadino," London tersenyum. "Ayo kita bicara."

Sadino's Monologue #9



El, boleh ya, aku cerita tentang London? 

Pertama kali aku bertemu dengan London, aku tahu kalau London akan mengubah hidupku suatu saat nanti. 

London adalah laki-laki yang menyenangkan. Selalu tersenyum, menjadi sumber semangat untuk teman-temannya, dan memandang dunia dengan perspektifnya sendiri. 

Cara London memandang langit sama sepertiku. Cara kami menerjemahkan sebuah bahasa menjadi rasa juga sama. Kami juga gemar bermain kata, menjadikannya sebuah lagu yang tak akan pernah dinyanyikan. 

London adalah lelaki yang impulsif. Tak ada kata "tabu" dalam kamusnya, dan dia percaya bahwa apa yang telah dia lakukan selama ini tidak pernah salah. 

Kami sempat dipisahkan oleh waktu. Cukup lama, hingga aku lupa akan eksistensinya. Dan beberapa waktu lalu, London kembali membawa berita yang sebenarnya tidak begitu aku harapkan. 

"It's been ten years," kata London saat dia duduk di teras rumahku. "Dan aku menaruh dendam pada orang-orang yang pernah ada di hidupmu waktu itu." 

Jam menunjukkan pukul 02.34. London terus mengoceh tentang perasaannya. London yang kecewa, London yang hidup dalam kebencian, dan cintanya padaku. Tentu saja, apa yang dia ungkapkan berubah menjadi angin ribut di dalam kepalaku. 

Sekitar pukul 04.21, London memutuskan untuk pulang. Wajahnya muram, tapi dia memaksakan diri untuk tersenyum saat mata kami beradu. "Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Tapi, izinkan aku untuk tenggelam dalam pikiranmu yang tak pernah bisa aku baca itu." 

Aku merasa dijebak oleh London, El. Tapi, aku senang, karena aku tahu isi pikirannya sekarang. 

Kami tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Toh, kami sudah saling mengenal cukup lama. Kami, 'kan, juga menganut paham yang sama. 

Hingga suatu hari, London memutuskan untuk hengkang dari apa yang sudah dia mulai. Tidak, dia tidak menyerah. Tapi, dia sadar telah mengambil langkah yang salah, dan dia telah melukai seseorang. Orang itu aku, El. 

"Aku akan pergi jauh dari kamu untuk waktu yang sangat lama," katanya. "Aku tidak akan beri tahu kamu kapan aku akan pergi. Aku akan bilang satu hari sebelumnya."

London bicara seakan tak punya beban, El. Dia tersenyum saat mengatakan hal itu padaku. Tapi aku tidak bodoh, El. Hatinya menjerit, dan aku mendengarnya. 

Tak ada yang berubah sejak London mengucapkan kalimat itu. London datang dan pergi begitu saja, dan aku tidak mempermasalahkannya. 

Suatu malam, aku bertanya padanya apakah dia sedang berusaha untuk membuat memori denganku. Kau tahu dia jawab apa, El? 

"Aku tidak suka dengan pertanyaan itu. Aku sudah punya banyak memori tentang kamu. Hanya saja, memori yang menyedihkan jauh lebih banyak. Jadi, aku ingin membuatnya setara-- memori yang menyenangkan, dan yang buruk." 

"Aku memilih kamu bukan untuk dikenang, tapi dimiliki." 


Beberapa hari setelahnya, kami bicara lagi. Bukan tentang kami, tapi tentang perspektif kami masing-masing yang sebenarnya tidak ada bedanya. Percakapan kami pun mengarah pada hal yang tidak ingin kami bahas. Kepergiannya. 

"Ya, aku menghindar," katanya. Aku tidak menjawab. Memang, aku tidak pernah memberikan jawaban saat London bicara tentang "kami". 

London menarik napas panjang dan membakar rokok yang berada di tangannya sejak lima menit yang lalu. Asap putih tebal keluar dari mulutnya dengan perlahan, dan ia berdecak, 

"Aku tidak mau hidup di sana." 

London menunjuk dadaku. Telunjuknya pun beralih ke kepalaku.

"Tapi di sana." 

London adalah laki-laki yang istimewa, El. Dia bisa menghancurkan aku kapan saja. Bahkan, dia bisa menyeretku untuk masuk ke dalam deritanya. 

Kami tinggal menunggu waktu. Setiap aku bangun dari tidurku, aku selalu dihantui akan kapan sebenarnya dia pergi.

Apakah kami akan bertemu hari ini?
Apakah hari ini, dia akan datang untuk menoreh luka?
Atau, membuatku nyaman dengan leluconnya?
Di mana dia saat ini? 

Baru-baru ini, London datang ke rumahku. Dia membawakanku sepotong besar kue cokelat, Iced Green Tea Latte dari Starbucks, dan sebuah buku catatan. 

"Aku dan kamu mungkin sudah mati rasa. Tapi, aku telah memutuskan untuk berbagi beban dengan kamu. Aku tidak peduli apakah kamu menerima hal itu atau tidak." 

"Waktu kita sempit. Kamu harus memperbolehkan aku untuk menyakitimu sekali lagi." 


Dan air mataku menetes saat London menepuk dahiku dengan tersenyum.


Sadino's Monologue #9 (1)

Sadino's Monologue #8



Cinta itu kompleks, El, dan manusia kerap menjadikan cinta sebagai senjata makan tuan.
Apa alasannya? 


Jujur, aku sebenarnya benci membicarakan cinta. Bagiku, cinta itu tabu, dan manusia kerap menjadikannya sebagai sebuah perdebatan. 

Manusia dan tabula rasa adalah sebuah kolaborasi yang konkret. Seorang bayi lahir membawa rasa, dan logika menyusul beberapa tahun kemudian. Rasa dan logika berada di dalam frekuensi yang sama. Apa sulitnya? 

Cinta itu terbagi dengan sendirinya, El. Kamu merasakannya, bukan? Tapi kenapa hal ini begitu rumit? Kenapa aku gagal untuk melakukan sinkronisasi? 

Dia, misalnya. Dia memilih untuk bersembunyi di balik egonya, membiarkan tubuhnya hanyut dalam kekalutan. Mulutnya ingin bicara, tapi rasa takut menguasai pikirannya. 

Dia memperlakukan dirinya dengan hati sekeras baja. Alasannya, timbal balik dalam kehidupan. Aku pikir, manusia hanya berpindah tempat, El. Manusia hanya bertukar posisi untuk mendapatkan pengalaman. Serupa, tapi tak sama. 

Apa sulitnya untuk jujur terhadap diri sendiri? Ya, ini masalah terbesarku, El. Dia juga. Apa salahnya meminta untuk dikasihi? Apa salahnya menyentuh tanpa mengharapkan imbalan? 

Teruslah memuja kemenangan atas diri sendiri. Karena hal itu tidak masuk akal, dan manusia menyukainya. Kadang, menjadi sosok yang idealis itu memang diperlukan. Tapi, sampai kapan? 

Modalnya hanya percaya, El. Manusia tidak perlu mengganti kerugian yang dibuat oleh orang lain. Tapi, kenapa manusia--dan aku tentunya-- memilih untuk bergantung dengan itu? 

Mungkin seorang Elohim tidak pernah merasakan peliknya sebuah kasus yang mengatasnamakan jiwa. Apa sulitnya untuk bertanya? Membuka aib yang menjadi problematik, 'kan, sah-sah saja. 

Mungkin manusia harus berhenti bercermin. Mungkin manusia harus berhenti menggugat satu sama lain. Aku memilih untuk menggantung harapanku, El. Aku muak dengan alibi tentang solidaritas. Haruskah aku merajah dia agar rahangnya bekerja? 

Aku ingin mendengar dia mendesah, El. Aku ingin dia menyebut namaku. Aku ingin batin kami menyatu, membentuk kisah yang baru, tanpa campur tangan imajinasi ataupun realitas. 

Sayang, dia memilih untuk bungkam, El. Dia memilih untuk menjahit lukanya sendiri saat tangan kami saling menggenggam. Dia ingin menyikapi hubungan ini dengan bijak. Tapi, hal itu berubah menjadi misi bunuh diri. 

Aku rasa, dia cukup pintar untuk berubah, El. Hanya saja, kenyataan merenggut kehidupannya dan membalutnya dengan kecemasan. Dan, aku tak punya otoritas untuk itu.

Sadino's Monologue #7



El, pernahkah kamu merasa cemburu? 

Manusia itu cemburu karena serakah, dan keserakahan itu muncul saat sekumpulan manusia berlomba untuk mendapatkan keamanan. Mereka saling mencakar, menjambak, hingga satu orang terpilih sebagai pemenang. Dalam kata lain, pembunuh. 

Tidak, aku tidak cemburu, El. Hanya saja, orang-orang ini tak punya otak. Mimpi mereka terlalu tinggi, padahal pola pikir mereka tak pernah berpindah tempat. 

Aku sering mendengar mereka bergumam. Mereka berusaha memberikan solusi, padahal mereka hanya mengeluh dengan mengemas "solusi" yang tidak solutif. 

Untuk apa mereka membuang waktu untuk berbagi derita? Lebih baik, orang-orang ini mati saja. Kenapa mereka berpikir diri mereka mampu mendidik orang lain? Padahal, mereka tidak pernah mengakui akan kehadiran seorang guru. 

Aku pernah memandangi diriku di cermin selama lebih dari tiga jam. Aku mengasihani diriku yang berpeluh demi bahagiaku. Serumit inikah perjuangan manusia untuk menjadi sosok yang "normal"? 

Rasanya, aku ingin mengutuk manusia yang tak punya watak. Aku benci manusia yang terus membodohi dirinya sendiri. 

Manusia itu harus tahu diri. Manusia adalah konseptor terhebat di muka Bumi. Tapi, kenapa manusia kerap memilih hal-hal di luar kompetensi? 

Mungkin bagi mereka, hal itu menyenangkan. Aku akui, hal itu memang menyenangkan. Dan cara mereka untuk meraih eksistensi lewat pola pikir yang pendek adalah tayangan favoritku dalam beberapa tahun terakhir. 

Manusia bebas untuk memilih. Kenapa mempersulit diri sendiri dengan sebuah abstraksi?

Sadino's Monologue #6

 

El, ada apa denganku?
Mendadak, aku merasa seperti sedang berduka. 

Aku seperti sedang mendengar sebuah himne. Samar-samar, melodi akan sebuah musik yang sendu mengalun dengan perlahan, membelai telinga, hingga bulu kuduk berdiri. 

Apa ini, El? Aku sudah menutup telingaku, dan himne ini tetap terdengar. Entah ini himne atau bukan, tapi suara-suara yang terdengar seperti sedang memuja sesuatu. 

Sebentar, El. Aku bisa mendengar denyut nadiku sekarang. Aku bisa merasakannya, El. Darah yang mengalir dengan perlahan, udara yang bergulat di dalam paru-paru, otot-otot yang lemas, pupil mata yang perlahan mengecil. 

Inikah sisi lain dari kehidupanku yang muram itu, El?
Apakah ini yang kau maksud dengan bersenyawa? 

Nyanyian itu semakin terdengar. Suara seorang perempuan dan laki-laki saling bersahutan, membuat sebuah lingkaran yang tak kasat mata di antara mereka. Gelombang suara mereka bergaung hingga ke cakrawala, membentuk sebuah garis lengkung yang membelah langit. 

Aku melihat diriku sendiri, El. Aku yang rapuh, aku yang nanar memandang diriku. Tubuhku terlihat memar di berbagai bagian, El. Ujung bibirku berdarah, kedua mataku lebam. 

Aku bergeming. Aku mulai cemas. Tak ada angin yang menerpa wajahku. Pasir seakan berbisik, membawa pesan yang tak mampu kubaca. Aku dan diriku masih saling menatap. Dan nyanyian itu semakin keras. 

Inikah diriku yang selama ini aku puji?
Betapa hancurnya aku, El.
Betapa rusaknya anggota tubuhku selama ini. 

Inikah dogma yang selama ini kubenci?
Inikah aku yang terbiasa dengan kehadiran sebuah stigma? 

Apakah sesungguhnya perempuan ini, perempuan yang berdiri dengan anggun tanpa alas kaki, benar-benar hidup? 

Kami berdua kontras, El. Aku bisa melihat mata lembayungnya dengan jelas. Dunia terbakar di sana. 

Wajahku perih, El. Pipiku seperti tergores sesuatu. Dan sekarang, darah mengalir pelan hingga ke daguku, mengingatkanku pada hangatnya dekapan seorang ibu. 

Ini ulahmu, El. Aku menyalahkanmu. Bukan karena tidak ada lagi yang bisa disalahkan, tapi karena duniaku ada di sana, dalam genggamanmu. 

Cukup, El. Ini menyakitkan. Aku harap, aku mengerti maksud dari perjalanan ini. Aku dan kamu akan jadi satu. Kita akan meronta bersama, saling memohon, dan mengampuni. 

Nyanyian itu mendadak berhenti. Duniaku kembali sunyi, dan aku melihatmu sekarang. Itu aku, El, itu suaraku. Dan itu suaramu, El. Ini caraku untuk bernyanyi, dan kau membantu dengan mengasihi.