Sunday, August 30, 2020
Sadino's Monologue #10
Sadino's Monologue #9
Pertama kali aku bertemu dengan London, aku tahu kalau London akan mengubah hidupku suatu saat nanti.
London adalah laki-laki yang menyenangkan. Selalu tersenyum, menjadi sumber semangat untuk teman-temannya, dan memandang dunia dengan perspektifnya sendiri.
Cara London memandang langit sama sepertiku. Cara kami menerjemahkan sebuah bahasa menjadi rasa juga sama. Kami juga gemar bermain kata, menjadikannya sebuah lagu yang tak akan pernah dinyanyikan.
London adalah lelaki yang impulsif. Tak ada kata "tabu" dalam kamusnya, dan dia percaya bahwa apa yang telah dia lakukan selama ini tidak pernah salah.
Kami sempat dipisahkan oleh waktu. Cukup lama, hingga aku lupa akan eksistensinya. Dan beberapa waktu lalu, London kembali membawa berita yang sebenarnya tidak begitu aku harapkan.
"It's been ten years," kata London saat dia duduk di teras rumahku. "Dan aku menaruh dendam pada orang-orang yang pernah ada di hidupmu waktu itu."
Jam menunjukkan pukul 02.34. London terus mengoceh tentang perasaannya. London yang kecewa, London yang hidup dalam kebencian, dan cintanya padaku. Tentu saja, apa yang dia ungkapkan berubah menjadi angin ribut di dalam kepalaku.
Sekitar pukul 04.21, London memutuskan untuk pulang. Wajahnya muram, tapi dia memaksakan diri untuk tersenyum saat mata kami beradu. "Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Tapi, izinkan aku untuk tenggelam dalam pikiranmu yang tak pernah bisa aku baca itu."
Aku merasa dijebak oleh London, El. Tapi, aku senang, karena aku tahu isi pikirannya sekarang.
Kami tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Toh, kami sudah saling mengenal cukup lama. Kami, 'kan, juga menganut paham yang sama.
Hingga suatu hari, London memutuskan untuk hengkang dari apa yang sudah dia mulai. Tidak, dia tidak menyerah. Tapi, dia sadar telah mengambil langkah yang salah, dan dia telah melukai seseorang. Orang itu aku, El.
"Aku akan pergi jauh dari kamu untuk waktu yang sangat lama," katanya. "Aku tidak akan beri tahu kamu kapan aku akan pergi. Aku akan bilang satu hari sebelumnya."
London bicara seakan tak punya beban, El. Dia tersenyum saat mengatakan hal itu padaku. Tapi aku tidak bodoh, El. Hatinya menjerit, dan aku mendengarnya.
Tak ada yang berubah sejak London mengucapkan kalimat itu. London datang dan pergi begitu saja, dan aku tidak mempermasalahkannya.
Suatu malam, aku bertanya padanya apakah dia sedang berusaha untuk membuat memori denganku. Kau tahu dia jawab apa, El?
"Aku tidak suka dengan pertanyaan itu. Aku sudah punya banyak memori tentang kamu. Hanya saja, memori yang menyedihkan jauh lebih banyak. Jadi, aku ingin membuatnya setara-- memori yang menyenangkan, dan yang buruk."
Beberapa hari setelahnya, kami bicara lagi. Bukan tentang kami, tapi tentang perspektif kami masing-masing yang sebenarnya tidak ada bedanya. Percakapan kami pun mengarah pada hal yang tidak ingin kami bahas. Kepergiannya.
"Ya, aku menghindar," katanya. Aku tidak menjawab. Memang, aku tidak pernah memberikan jawaban saat London bicara tentang "kami".
London menarik napas panjang dan membakar rokok yang berada di tangannya sejak lima menit yang lalu. Asap putih tebal keluar dari mulutnya dengan perlahan, dan ia berdecak,
"Aku tidak mau hidup di sana."
London menunjuk dadaku. Telunjuknya pun beralih ke kepalaku.
"Tapi di sana."
London adalah laki-laki yang istimewa, El. Dia bisa menghancurkan aku kapan saja. Bahkan, dia bisa menyeretku untuk masuk ke dalam deritanya.
Kami tinggal menunggu waktu. Setiap aku bangun dari tidurku, aku selalu dihantui akan kapan sebenarnya dia pergi.
Baru-baru ini, London datang ke rumahku. Dia membawakanku sepotong besar kue cokelat, Iced Green Tea Latte dari Starbucks, dan sebuah buku catatan.
"Aku dan kamu mungkin sudah mati rasa. Tapi, aku telah memutuskan untuk berbagi beban dengan kamu. Aku tidak peduli apakah kamu menerima hal itu atau tidak."
"Waktu kita sempit. Kamu harus memperbolehkan aku untuk menyakitimu sekali lagi."
Dan air mataku menetes saat London menepuk dahiku dengan tersenyum.

Sadino's Monologue #8
Manusia dan tabula rasa adalah sebuah kolaborasi yang konkret. Seorang bayi lahir membawa rasa, dan logika menyusul beberapa tahun kemudian. Rasa dan logika berada di dalam frekuensi yang sama. Apa sulitnya?
Cinta itu terbagi dengan sendirinya, El. Kamu merasakannya, bukan? Tapi kenapa hal ini begitu rumit? Kenapa aku gagal untuk melakukan sinkronisasi?
Dia, misalnya. Dia memilih untuk bersembunyi di balik egonya, membiarkan tubuhnya hanyut dalam kekalutan. Mulutnya ingin bicara, tapi rasa takut menguasai pikirannya.
Dia memperlakukan dirinya dengan hati sekeras baja. Alasannya, timbal balik dalam kehidupan. Aku pikir, manusia hanya berpindah tempat, El. Manusia hanya bertukar posisi untuk mendapatkan pengalaman. Serupa, tapi tak sama.
Apa sulitnya untuk jujur terhadap diri sendiri? Ya, ini masalah terbesarku, El. Dia juga. Apa salahnya meminta untuk dikasihi? Apa salahnya menyentuh tanpa mengharapkan imbalan?
Teruslah memuja kemenangan atas diri sendiri. Karena hal itu tidak masuk akal, dan manusia menyukainya. Kadang, menjadi sosok yang idealis itu memang diperlukan. Tapi, sampai kapan?
Modalnya hanya percaya, El. Manusia tidak perlu mengganti kerugian yang dibuat oleh orang lain. Tapi, kenapa manusia--dan aku tentunya-- memilih untuk bergantung dengan itu?
Mungkin seorang Elohim tidak pernah merasakan peliknya sebuah kasus yang mengatasnamakan jiwa. Apa sulitnya untuk bertanya? Membuka aib yang menjadi problematik, 'kan, sah-sah saja.
Mungkin manusia harus berhenti bercermin. Mungkin manusia harus berhenti menggugat satu sama lain. Aku memilih untuk menggantung harapanku, El. Aku muak dengan alibi tentang solidaritas. Haruskah aku merajah dia agar rahangnya bekerja?
Aku ingin mendengar dia mendesah, El. Aku ingin dia menyebut namaku. Aku ingin batin kami menyatu, membentuk kisah yang baru, tanpa campur tangan imajinasi ataupun realitas.
Sayang, dia memilih untuk bungkam, El. Dia memilih untuk menjahit lukanya sendiri saat tangan kami saling menggenggam. Dia ingin menyikapi hubungan ini dengan bijak. Tapi, hal itu berubah menjadi misi bunuh diri.
Aku rasa, dia cukup pintar untuk berubah, El. Hanya saja, kenyataan merenggut kehidupannya dan membalutnya dengan kecemasan. Dan, aku tak punya otoritas untuk itu.
Sadino's Monologue #7
Manusia itu cemburu karena serakah, dan keserakahan itu muncul saat sekumpulan manusia berlomba untuk mendapatkan keamanan. Mereka saling mencakar, menjambak, hingga satu orang terpilih sebagai pemenang. Dalam kata lain, pembunuh.
Tidak, aku tidak cemburu, El. Hanya saja, orang-orang ini tak punya otak. Mimpi mereka terlalu tinggi, padahal pola pikir mereka tak pernah berpindah tempat.
Aku sering mendengar mereka bergumam. Mereka berusaha memberikan solusi, padahal mereka hanya mengeluh dengan mengemas "solusi" yang tidak solutif.
Untuk apa mereka membuang waktu untuk berbagi derita? Lebih baik, orang-orang ini mati saja. Kenapa mereka berpikir diri mereka mampu mendidik orang lain? Padahal, mereka tidak pernah mengakui akan kehadiran seorang guru.
Aku pernah memandangi diriku di cermin selama lebih dari tiga jam. Aku mengasihani diriku yang berpeluh demi bahagiaku. Serumit inikah perjuangan manusia untuk menjadi sosok yang "normal"?
Rasanya, aku ingin mengutuk manusia yang tak punya watak. Aku benci manusia yang terus membodohi dirinya sendiri.
Manusia itu harus tahu diri. Manusia adalah konseptor terhebat di muka Bumi. Tapi, kenapa manusia kerap memilih hal-hal di luar kompetensi?
Mungkin bagi mereka, hal itu menyenangkan. Aku akui, hal itu memang menyenangkan. Dan cara mereka untuk meraih eksistensi lewat pola pikir yang pendek adalah tayangan favoritku dalam beberapa tahun terakhir.
Manusia bebas untuk memilih. Kenapa mempersulit diri sendiri dengan sebuah abstraksi?
Sadino's Monologue #6
Aku seperti sedang mendengar sebuah himne. Samar-samar, melodi akan sebuah musik yang sendu mengalun dengan perlahan, membelai telinga, hingga bulu kuduk berdiri.
Apa ini, El? Aku sudah menutup telingaku, dan himne ini tetap terdengar. Entah ini himne atau bukan, tapi suara-suara yang terdengar seperti sedang memuja sesuatu.
Sebentar, El. Aku bisa mendengar denyut nadiku sekarang. Aku bisa merasakannya, El. Darah yang mengalir dengan perlahan, udara yang bergulat di dalam paru-paru, otot-otot yang lemas, pupil mata yang perlahan mengecil.
Nyanyian itu semakin terdengar. Suara seorang perempuan dan laki-laki saling bersahutan, membuat sebuah lingkaran yang tak kasat mata di antara mereka. Gelombang suara mereka bergaung hingga ke cakrawala, membentuk sebuah garis lengkung yang membelah langit.
Aku melihat diriku sendiri, El. Aku yang rapuh, aku yang nanar memandang diriku. Tubuhku terlihat memar di berbagai bagian, El. Ujung bibirku berdarah, kedua mataku lebam.
Aku bergeming. Aku mulai cemas. Tak ada angin yang menerpa wajahku. Pasir seakan berbisik, membawa pesan yang tak mampu kubaca. Aku dan diriku masih saling menatap. Dan nyanyian itu semakin keras.
Inikah dogma yang selama ini kubenci?
Inikah aku yang terbiasa dengan kehadiran sebuah stigma?
Apakah sesungguhnya perempuan ini, perempuan yang berdiri dengan anggun tanpa alas kaki, benar-benar hidup?
Kami berdua kontras, El. Aku bisa melihat mata lembayungnya dengan jelas. Dunia terbakar di sana.
Wajahku perih, El. Pipiku seperti tergores sesuatu. Dan sekarang, darah mengalir pelan hingga ke daguku, mengingatkanku pada hangatnya dekapan seorang ibu.
Ini ulahmu, El. Aku menyalahkanmu. Bukan karena tidak ada lagi yang bisa disalahkan, tapi karena duniaku ada di sana, dalam genggamanmu.
Cukup, El. Ini menyakitkan. Aku harap, aku mengerti maksud dari perjalanan ini. Aku dan kamu akan jadi satu. Kita akan meronta bersama, saling memohon, dan mengampuni.
Nyanyian itu mendadak berhenti. Duniaku kembali sunyi, dan aku melihatmu sekarang. Itu aku, El, itu suaraku. Dan itu suaramu, El. Ini caraku untuk bernyanyi, dan kau membantu dengan mengasihi.
Wednesday, August 12, 2020
Sadino's Monologue #5
Sadino's Monologue #4
Tuesday, August 11, 2020
Sadino's Monologue #3
Sadino's Monologue #2
Aku muak, El. Dunia ini penuh dengan keburukan. Manusia saling menghakimi satu sama lain, saling menggugat, berkelahi lewat suara.
Aku sedang menggapai sesuatu, El. Demi menghapus kebosanan, tentunya, dan itu tidak mudah. Aku harus berpikir, melihat bayanganku sendiri, dan dikejar waktu.
Dan orang ini datang, mematikan semangatku, merobek luka, dan mengambil kebahagiaanku. Padahal, dia adalah sosok yang acuh tak acuh, kerap memandang dunia dengan mempermudah pola pikirnya, dan gemar berbagi beban yang tidak ingin aku pikul.
Sebentar. Aku bingung. Apakah aku harus menggunakan 'aku' atau 'kami' dalam hal ini? Vox populi? Oh, oke, 'aku' lebih tepat, karena ini egoku.
Aku heran, El. Dulu, aku selalu memujinya. Di mataku, dia adalah orang yang cerdas dan bijak. Aku merasa dia peduli padaku.
Dan dunia berputar. Pikiranku digempur dengan kebencian. Mendadak, si tolol bersabda, "Jangan seenaknya sendiri. Pikirkan orang lain, jangan buat aku marah."
Seharusnya, dia bertanya, "Ada apa denganmu?" atau, "Apa yang salah denganku?" Seharusnya, dia sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah penolakan-- aku tidak ingin menjadi orang yang kotor dari segi pikiran.
Andai aku bisa mengumpat setiap menit, tapi itu melelahkan. Andai otaknya bekerja lebih keras. Andai saja, dia mau mengakui dosa-dosanya. Aku mungkin tidak akan mengampuni, dan kebodohannya mungkin bisa memberikan jalan keluar untuk sosoknya yang dia agung-agungkan itu.
Entah apa yang berkecamuk di dalam pikirannya, tapi pintaku, dengarkan isi kepala mereka. Tawarkan bantuan untuk mereka yang sekiranya, membutuhkan sebuah solusi. Memang, ini kerja kerasku yang tak perlu diapresiasi. Tapi, jangan merendah untuk menjadi semakin rendah. Karena aku pikir, dia sudah salah langkah.
Dia berlaku semaunya, membedakan seseorang dengan orang lain yang duduk penuh tekanan. Aku pikir, dengan belajar menghargai sesama, matanya akan terbuka dengan mudah. Jika tidak bisa, apakah mungkin aku harus menghancurkan tengkoraknya hingga darahnya mengalir turun bak air mata?
Aku tahu dia mampu mendengar sumpah serapah yang diteriakkan padanya. Bodohnya, dia menolak untuk mendengar. Bodohnya lagi, dia tidak peduli. Aku khawatir jika suatu saat nanti, dia akan tunduk pada suara yang membawa fakta akan siapa dirinya yang sebenarnya.
Apa, El? Biarkan saja?
Awalnya memang begitu sampai detik ini tiba. Aku hanya tidak sanggup berhadapan dengan pendusta. Lagi-lagi, dia memaksaku untuk tidak mengabaikannya, memberiku tekanan yang seharusnya dia pikul, hingga kesabaranku berada di tapal batas.
Aku akan melakukan sesuatu, El. Aku akan membuatnya marah. Aku akan membuatnya kecewa. Silakan, anggap saja aku balas dendam. Karena sesungguhnya, manusia tidak berhadapan dengan karma, melainkan hanya bertukar tempat untuk mengerti yang mana prioritas, dan mana yang bukan. Sekarang, dia sedang berjalan untuk berdiri di tempat yang aku beri jiwa.
Panggil aku sang pengkhianat, dan aku akan memperkenalkannya pada dunia yang lebih waras dari isi kepalanya.









