Sunday, April 1, 2018

Ketika Sang Surya Merana.


Membiru,
Membekas dan hancur.
Terpatri perilaku,
Tertipu waktu.

Dia terus mencari,
Sesuatu yang tak pasti.
Dia terus berharap,
Sampai pikirannya kalap.

Terbentuk dan bergerak,
Merintih dan mengerang,
Mengering dan tandus,
Meminta dan melupakan.

Dekap aku sekarang.
Baca hatiku,
Sentuh dahiku,
Remuk jantungku.

Menentang dan menolak,
Melihat dan mendesah,
Berlarilah,
Bergeraklah.

Luluh lantak dan berserakan,
Aku adalah benalu.
Berpijar dan terbakar,
Aku adalah surya yang merana.

Thursday, February 22, 2018

Devdas.

Mungkin,
Aku terlalu lama berjalan sendiri,
Sampai aku tak menyadari,
Kedua tangannya telah meraih bahuku dari belakang.

Mungkin,
Aku terlalu teguh memegang pendirianku.
Karena di saat Devdas berdiri di depanku,
Aku hanya melihat bayangannya saja.

Aku diburu oleh Devdas,
Diselimuti ketakutan akan keheningan malam,
Dibalut rasa bersalah,
Dan dibiarkan terkapar tanpa suara.

Hanya Devdas,
Yang bisa membangkitkan gairah perangku.
Hanya Devdas,
Yang mampu membuatku bertahan hingga detik ini.

Aku terlalu khawatir akan kehadiran Devdas yang tak kenal ampun.
Aku terlalu rindu akan kegigihan Devdas yang tak mengenal norma.
Aku hanyalah wadah bagi Devdas,
Untuk menuntaskan hasratnya yang tertahan selama ini.

Tiga belas tahun aku hidup dengan Devdas,
Tapi aku tak pernah menyadari apa yang telah dia korbankan selama ini.
Kami hidup berdampingan,
Tapi aku tidak pernah tahu apa yang Devdas butuhkan.

Aku hanya memacu jantungnya agar bekerja lebih keras setiap hari.
Aku hanya menelantarkan angannya yang berharga.
Aku hanya membuat remuk hatinya.
Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu.

Mungkin,
Ini yang disebut karma,
Yang melekat dengan hebat di sanubariku,
Yang menoreh luka secara konsisten dengan sempurna.

Saturday, February 10, 2018

Atmadeva.

Atmadeva,
Selesai sudah perjalananmu.
Kau tak perlu takut untuk melangkah,
Kau tak perlu takut untuk bicara.

Kau tidak membutuhkan waktu lama untuk bergerak.
Selama ini, kau hanya mengigau,
Memikirkan hal-hal yang tak lazim,
Dan berkutat dengan ketakutanmu.

Sekarang, sayapmu terbentang lebar,
Kau siap untuk menjadi dewasa,
Kau siap untuk melihat lebih jauh,
Kau adalah manusia seutuhnya.

Dan aku di sini,
Duduk termangu,
Mencari jalan pintas,
Berusaha melarikan diri.

Aku tidak bisa berkawan dengan kepergian.
Aku tidak mudah untuk melepaskan.
Aku selalu menghindar,
Aku selalu tidak terima.

Sebut aku lemah,
Karena aku memang begitu.
Sebut aku egois,
Karena manusia punya rasa.

Bodoh, memang, 
Karena aku menganggapmu lebih.
Atmadeva yang polos,
Atmadeva yang kesepian.

Satu hal, Atmadeva,
Aku sedang patah hati.
Dan ini elegi,
Yang tak akan aku bawa mati.

Sunday, January 14, 2018

Adhyasta.

Adhyasta,
Aku minta tolong padamu.
Bawa ragaku yang telah menghitam ini,
Dan leburkan di pinggir laut.

Adhyasta,
Semalam, aku melihatmu membatin.
Aku melihat sakitmu,
Aku melihat deritamu.

Berhenti menghancurkan dirimu sendiri.
Izinkan aku meresapi sakit hatimu.
Izinkan aku untuk tinggal di sana,
Sebentar saja.

Adhyasta,
Akan datang hari di mana kamu harus berlari.
Dan kamu tidak boleh berhenti.
Kamu tidak boleh mati.

Jangan pernah berkeluh.
Jangan pernah menoleh ke belakang.
Hadapi aku, Adhyasta.
Rengkuh hatiku.

Bawa aku pergi, Adhyasta.
Buat aku berpikir kalau apa yang kita jalani ini lumrah.
Tidak, ini bukan takdir kita.
Karena kita memilih untuk jadi satu.

Sunday, December 31, 2017

Sajesha.

Ini aku.
Ini tubuhku.
Ini ragaku.
Ini isi kepalaku.

Tranggana berdiri di belakangku seraya menyibak rambutnya.
Sayaka dan Samasta memandang langit yang perlahan mulai memerah.
Jaladhi menutup matanya, mendengarkan semesta.
Jagratara menganggungkan angin yang menerpa wajahnya.

Garjita menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Sudrata berjalan pelan menghampiri saudara-saudaranya.
Nalendra berjongkok menatap awan yang bergerak pelan.
Dan Padma menganggukkan kepalanya seakan ia mengerti apa yang sedang terjadi.

Sembilan kesatria berdiri di singgasana yang sama,
Menyapa senja yang perlahan menghilang,
Menanti malam tiba,
Menunggu diburu.

Darah mereka adalah darahku.
Jantung kami berdetak bersama,
Dan mata kami juga memandang hal yang sama,
Yakni dunia baru, yang ada di kaki langit.

Saudara-saudaraku, bersiaplah.
Samakan napas kalian dengan napasku.
Satukan kebencian kalian dengan jiwaku.
Seka peluhmu, kita bersatu.

Saudara-saudaraku,
Ingat, kehidupan dan kematian akan saling menggugat.
Dari satu ibu kami menarik napas,
Mari leburkan kota para dewa yang tak bersuara.

Saturday, December 2, 2017

Yudhistira.

Bangun.
Ini bukan tempatmu.
Rumahmu di sini,
Di dalam pelukan kami.

Buka matamu.
Andai aku diperbolehkan untuk memaksa,
Akan aku pacu jantungmu,
Aku akan membangunkanmu dari tidur pulasmu.

Yudhistira,
Apakah kau mendengarku?
Kami gelisah,
Kami menunggu.

Yudhistira,
Peluk aku.
Aku ingin bersandar pada bahumu,
Berbagi cerita meski tanpa makna.

Yudhistira,
Aku ingin bicara.
Jawab aku,
Jawab pertanyaan kami.

Aku tahu kau sedang berjuang,
Untuk bertemu dengan keluargamu lagi.
Kita berjuang bersama,
Dengan doa dan harapan yang tak pernah lelah kami lantunkan.

Yudhistira,
Aku masih membutuhkan kamu.
Kembalilah pada kami,
Genggam jiwa kami.

Berhentilah bermimpi.
Tidak ada yang kau cari di sana,
Keinginanmu ada pada kami,
Karena rasa cinta tidak dapat dibeli.

Saturday, October 21, 2017

Eza.

Sebelas tahun lalu,
Eza berdiri di sana,
Menangis,
Menghancurkan hidupnya.

"Hidup aku berantakan, Sa."
Tarik napasmu,
Hembuskan perlahan.
Aku selalu percaya kamu bisa.

"Aku udah enggak bisa maju lagi, Sa."
Kami selalu percaya,
Kamu bukan mereka yang tak punya masa depan,
Dan harapan itu selalu aku genggam.

"Aku sakit. Badanku sakit semua, Sa."
Bertahanlah,
Bertahanlah sedikit lagi.
Sebentar lagi, kita akan melihat langit.

"Aku udah enggak bisa lihat apa-apa, Sa."
Jangan buat aku ragu akan kehadiran Tuhan.
Jangan buat aku berhenti berdoa.
Jangan buat aku ikhlas.

"Aku capek, Sa. Aku mau pulang."
Jangan berjalan ke sana,
Jangan melihat ke sana.
Pulanglah ke sini, ke pelukanku.

"Maafin aku, Sa."
Aku tidak ingin memaafkan sebelum kamu berjuang.
Pacu jantungmu,
Aku mohon, bertahanlah.

Dan aku mengalah pada takdir.
Terluka, dan menyerah.
Di usia 21 tahun,
Tuhan mengambil Eza dari pelukanku.

Sulit,
Karena dia tak mau mengerti.
Sulit,
Karena dia menolak untuk mendengar.

Keinginannya sudah salah sejak awal.
Keputusannya telah menggerogoti tubuhnya,
Dia kehabisan waktu,
Mempermudah mimpinya menjadi sebuah fatamorgana.

Eza, ini aku.
Perempuan yang kamu tampar berulang kali,
Perempuan yang kamu peluk kakinya saat tubuhmu gemetar,
Perempuan yang kamu hancurkan doanya saat dia memintamu untuk bertahan.

Maaf,
Karena aku lupa.
Maaf,
Karena ternyata, aku masih terluka.

Thursday, October 5, 2017

Danur.

Maukah kamu berdosa,
Untuk kami yang tak lagi disegani?
Maukah kamu memimpin,
Barisan manusia yang sedang patah hati?

Danur memandang nanar,
Tangannya menggenggam nirwana,
Melantunkan lagu rindu,
Membalut semesta dengan doa.

Ini adalah bahasaku,
Ringan, tapi bermakna.
Merangkul mereka yang penuh noda,
Merengkuh, merayu.

Ajak aku pergi,
Yang sedang bermain hati,
Aku yang tak bertulang,
Aku yang bermuram durja.

Ini napasku,
Menari dalam angan,
Menuai kontroversi,
Melahirkan kesunyian.

Danur melihatku,
Menggeleng pelan,
Berjalan pergi,
Mencari suara yang memanggilnya untuk kembali.

Wednesday, September 20, 2017

Tribuana Tunggadewi.

Kamu pikir,
Kita sedang berbagi luka?
Kamu pikir,
Aku menunggu kamu kembali?

Ya, kamu benar.
Aku ingin melihat kamu,
Meraung dan mengemis,
Menyebut namaku.

Tapi,
Aku bukan orang jahat.
Aku hanyalah lelaki yang berhenti berharap.
Aku adalah bayangan yang selama ini kau cari.

Aku ingin bertemu.
Agar kita saling menyakiti,
Agar pedihku jadi pedihmu,
Agar kita kembali jadi satu.

Aku ingin lihat,
Bagaimana sebuah rasa mampu memimpin ego,
Ego yang tak akan jinak,
Untuk kita yang sama-sama kecewa.

Aku adalah hantumu.
Atau sebaliknya?
Siapa yang salah?
Siapa yang akan mengalah?

Dengarkan aku,
Dengarkan hatiku yang angkuh.
Jangan datang jika tak akan kembali.
Jangan berani bertanya jika tujuanmu hanya air mata.

Sunday, September 17, 2017

Angkasa Jaya.

Andai kamu punya sayap,
Kamu pasti sudah pergi ke negeri seberang.
Andai aku punya sayap.
Aku pasti menyusulmu ke sana.

Ini mimpimu,
Mimpi seorang lelaki yang aku banggakan,
Bagian dari bahagiamu,
Dan juga bahagiaku.

"Ikut aku," katamu,
Seraya mengulurkan lengan kananmu,
Mencoba meraihku,
Yang memilih untuk diam di tempat.

Aku telah membayangkan,
Ratusan gedung pencakar langit,
Air sungai yang mengalir jernih,
Ragamu di sana.

Angin memanggilmu.
Membawa setiap memori di dalam kepalamu,
Pergi jauh,
Meninggalkan aku dan mereka yang hancur melihatmu.

Beri warna pada angkasa,
Kini kamu tiada tandingannya.
Sebut satu nama yang kamu genggam detik ini,
Karena di udara, kita berjaya.