Sunday, October 18, 2020

Sadino's Monologue #18



"She was a hybrid moon, a playground of grief.
A queen searching for her star." 


Kalimat itu adalah quote dari Rune Lazuli. Dan kalimat itu ditulis oleh London di buku hariannya baru-baru ini. 

Sejak pukul 00.12, aku terus mendengarkan lagu berjudul "Breathturn" milik Hammock sambil membaca buku harian London yang dia berikan padaku. 

Sebenarnya, buku harian ini sudah dia berikan padaku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-15 kalau aku tidak salah ingat. Tapi, aku mengira buku dengan sampul ini hitam ini hanyalah sebuah catatan kosong yang harus aku isi. Jadi, aku tidak membukanya sama sekali sampai akhirnya, London membawa buku ini kembali ke pelukannya. 

London kembali memberikan buku ini padaku akhir tahun lalu. Bukan main bersalahnya aku karena tidak membukanya sama sekali saat itu. London pun mengaku kesal, tapi dia memilih untuk melupakannya. 

Buku ini ditulis saat London sedang berada di Selandia Baru. Saat itu, dia sedang pergi berlibur dan merindukan aku. Namaku tertulis di setiap halaman buku ini, dan hal itu membuatku sedih karena aku tidak merasakan apa yang dia rasakan saat itu. 

Untuk beberapa hal, London terlalu tulus. Dia memilih untuk mengalahkan egonya, menjadikannya sebagai musuh, dan menjauhinya. 

Pertemuanku dengan London bukanlah sesuatu yang direncanakan. Kami dipermainkan waktu, hingga akhirnya kami bertemu di saat kami sedang merasa risau. 

London tidak banyak berubah. Dia masih enggan untuk menyisir rambutnya. Hanya saja, sudah tidak ada lagi anting yang menggantung di bibirnya. Dia bilang, hal itu lama-lama menyebalkan. 

London masih suka menulis. Aku melihatnya sendiri, buku hariannya semakin banyak. Dia meletakkannya di atas rak buku di samping tempat tidurnya, dan banyak di antaranya yang berkawan dengan debu. 

"Mau kamu apakan teman-temanmu ini, London? Mereka terlalu antik untuk tidak kamu bersihkan," tanyaku kala itu. 

"Mereka adalah pengingat bahwa aku pernah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Mereka juga mengingatkan bahwa jalan yang aku ambil tidak semuanya salah. Aku hanya terjebak di tengah-tengah semak belukar yang menghalangi jalanku menuju hal-hal yang selama ini aku cari," jawabnya. 

Seraya membakar rokok yang sudah cukup lama berada di dalam genggamannya, London tersenyum menatapku. "Kadang, aku terlalu lama terluka di suatu tempat. Aku juga mengobati diriku terlalu lama, sampai akhirnya aku memilih untuk tetap berada di tempatku terluka." 

"Jadi, buku-buku ini adalah pameran tentang pencarian jati dirimu?" tanyaku. 

London menggeleng. "Tidak juga. Tapi, masing-masing buku sudah kuselipkan jiwaku. Jadi, ketika kamu membuka satu di antaranya, kamu akan bersatu denganku." 

"Oh, aku pikir aku sudah bersatu dengan kamu," kataku sambil duduk di atas tempat tidur. 

"Memang sudah, kok," London tersenyum. "Kamu ibarat buku harian utamaku yang menjadi saksi hidupku dan selalu kujaga baik-baik." 

Tidak. Jawaban London tidak berlebihan. Begitulah cara London mengekspresikan sebuah rasa; murahan dan terlalu jujur. 

"Sadino," London menatapku. "Di mana kamu selipkan jiwamu?" 

Aku mendengus. "Di suatu tempat yang tidak akan bisa kamu temukan. Aku juga lupa jalan untuk ke sana." 

London tersenyum simpul. "Percayalah, aku akan nekat untuk menemukan tempat itu tanpa kamu."

Sadino's Monologue #17


El, aku akan mengajakmu berjalan-jalan sebentar. Mau, ya? 


Angin dingin pada malam itu tidak menghentikanku untuk pulang ke rumah. Hujan terus turun seakan tak mengenal waktu, membasahi bumi, dan pikiran mereka yang sedang bermimpi. 

Bukan main bahagianya aku ketika aku melihat London berdiri di ambang pintu. Dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, London tersenyum tanpa suara, menyambutku yang sudah tidak sabar untuk segera didekapnya. 

Ujung bibirku bergerak dan aku sadar aku sedang membalas senyumnya. Dengan cepat, aku membuka pintu pagar rumahku, menutupnya, dan menghampiri London. 

Sebatang rokok terselip di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. London menundukkan kepalanya agar bisa melihatku yang tengah semringah dengan jelas. Bola matanya yang hitam seakan berbinar di mataku. 

Aku seperti anak kecil yang baru saja pulang sekolah dan sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan ibuku, kala itu. Kedua tanganku menggenggam erat tali tas yang melingkar di bahuku, mencoba meringankan beban di punggungku yang sudah aku pikul sejak satu jam yang lalu. 

Bibirku bergerak untuk menyapa London, tapi dia memotongku. 

"Aku pergi akhir pekan ini." 


Mata kami saling menatap. Mulutku terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Aku mendadak bisu. 

London masih menatapku tanpa suara. Dia masih tersenyum, seakan apa yang ia ucapkan barusan bukanlah hal yang penting. Dia terlihat tenang, seperti London yang tak punya beban. 

"Biasanya, emosimu langsung memuncak saat mendengar hal-hal yang tidak ingin kamu dengar," London menyindirku. Suaranya masih terdengar tenang seperti biasanya. 

Aku sadar kedua mataku terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku menundukkan wajahku dengan cepat, dan kini kedua mataku menatap lantai tempatku berpijak. Aku perhatikan sepatu putihku yang kotor. Aku pikir, aku harus mencucinya. Tapi, pikiranku kosong, entah apa yang aku pikirkan. 

Mendadak, aku mati rasa. Seperti terkena serangan jantung secara mendadak, jantungku seperti diremas dan dirobek di saat yang bersamaan. Pedih, tapi tak berdarah. 

Hening. Kami tak bersuara. Angin menerpa tubuhku, entah itu sindiran atau bukan. Mungkin, angin mengisyaratkanku untuk segera menjawab pertanyaan London. Tapi, aku tidak punya jawaban. Mendadak, aku buta aksara. 

Aku tidak tahu apakah London masih menatapku atau tidak. Dia tidak bergerak, dan tubuhnya masih bersandar pada pintu. 

"Yang rapuh itu bukan cuma kamu." 

London berjongkok. Kepala menengadah melihatku. London masih tersenyum, tapi air matanya telah membasahi pipinya. 

"Hatiku, pikiranku, dan tubuhku, ternyata jauh lebih rapuh dari kamu."


Air mata London bergerak turun ke dagunya, seakan berlomba, siapa yang akan membentur tanah terlebih dahulu. London terlihat berusaha tenang. Dia berulang kali mengatur napasnya. Tapi, kekecewaan dan kesedihannya meronta ingin diperlihatkan. Dia tidak bisa menahannya, dan pada akhirnya, London membebaskan mereka. 

Tangan kananku bergerak. Jemariku kini menyentuh rambutnya yang acak-acakan, mencoba merapikannya, tapi percuma. Aku menelan ludah dan menarik napas panjang, mencoba menjinakkan emosiku yang sudah tidak karuan. 

Ternyata, aku tidak bisa. Aku menyerah. Wajah kami sama-sama basah sekarang. 

"Setelah bertahun-tahun lamanya, aku menemuimu hanya untuk berpisah denganmu,"
kata London. 

"Selama ini, waktu yang aku buang untuk kamu ternyata masih belum cukup.
Ternyata, aku masih rindu." 


Aku menarik tanganku yang telah mengepal. Kedua tanganku sekarang saling menggenggam. 

"Mungkin aku dikutuk.
Karena di saat aku menatapmu seperti ini, aku masih merindukan kamu."
 

"Aku ingin tidur, London," ucapku tiba-tiba. "Aku lelah."

"Silakan, kalau kamu bisa," London berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Tapi janji, hari ini kamu bisa tidur pulas." 

Aku tidak menjawab dan kembali menelan ludah. Aku benar-benar kehabisan kata-kata. 

"Aku tidak perlu jawaban dari kamu, Sadino," London menjawab pertanyaan di pikiranku. "Aku hanya butuh kamu. Kamu yang kuat, kamu yang mandiri." 

London mempersilakanku masuk ke dalam rumah, seakan-akan ini adalah rumahnya. Aku berjalan masuk, menaruh tasku di sofa, melepas jaketku, dan melemparnya ke sebelah tasku. 

"Tunggu. Aku punya pertanyaan dan aku perlu jawabannya," kata London sambil menutup pintu. 

Aku menatapnya dengan kedua alis terangkat. London bersandar pada pintu yang barusan dia tutup dan kembali melipat kedua tangannya di depan dadanya. 


"Kenapa Sadino yang biasanya acuh tak acuh pada London,
berdarah lebih cepat saat London mengucapkan selamat tinggal?"

Sadino's Monologue #16


Rasa itu rumit ya, El?
Tak bisa disentuh, tak bisa dilihat, tak bisa ditafsirkan,
dan hanya bisa dialami. 

Teruntuk sebuah rasa, aku merasa gugup. Aku sudah lama tidak merasakan hal ini. Oh, aku tidak akan mengatakannya padamu, El. Toh, kamu juga sudah tahu. 

Aku tidak bisa mendefinisikan sebuah rasa. Rasa itu mengalir, kadang meneduhkan, kadang menghancurkan. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan sekarang. Mendadak, aku merasa seperti buta bahasa. 

Mungkin, aku sudah mati rasa terlalu lama, El. Aku bingung harus mulai dari mana untuk membenahi hal ini. Apakah aku harus menerima dan menelan semua hal yang berkaitan dengan perasaan, atau menolaknya dengan sopan. 

Kelihatannya, aku telah mengabaikan perasaanku dalam waktu yang cukup lama. Aku menjadi tidak peka, berbuat semauku, dan bicara sesukaku.  

Aku selalu mendahulukan orang lain, El. Akukalau boleh jujurnyaris tidak pernah memikirkan perasaanku sendiri. 

Aku pikir, tidak ada manusia yang mau mendengarkan cerita manusia lain dengan tulus. Kalau pun hal itu dilakukan, manusia melakukannya untuk menuntaskan rasa ingin tahu mereka atau hanya sekadar disebut 'perhatian'. 

Aku tidak ingin bicara banyak mengenai rasa. Meski aku ingin mengelaborasi apa yang aku rasakan saat ini, aku lebih memilih untuk menyimpannya rapat-rapat. 

Alasannya, karena aku mudah terluka, El. Menjabarkan sebuah rasa sama dengan menguliti diri seseorang hidup-hidup. 

Apakah rasa ini melibatkan seseorang?
Jujur, ya.

Apakah orang ini tahu kalau dirinya terlibat?
Mungkin, dan aku tidak mau dia pergi.

Friday, October 16, 2020

Sadino's Monologue #15


Aku benci dengan orang yang buta cinta, El.
Tapi, aku tidak bisa menyalahkan mereka. 


Beberapa hari lalu, seorang temansebut saja Guiraudbercerita tentang kehidupan cintanya yang rumit, El. Dengan antusias, aku mendengarkan kisahnya yang pilu itu. 

Yang dialami oleh Guiraud cukup pelik, El. Bukan karena perempuan yang dia cintai, tapi keputusannya untuk melebur dengan tanah yang dia pijak. Dia memilih untuk bersatu dengan humus yang mengandung unsur hara; membentuk sebuah jaringan kehidupan yang baru, tapi tidak tahu mau diapakan. 

Guiraud terjebak di dalam zona nyamannya. Logikanya mati, karena perasaannya dipaksa untuk bekerja keras setiap hari. Guiraud mempertahankan apa yang dia miliki, menjadikan hal itu sebagai tanggung jawabnya, tapi membunuhnya secara perlahan. 

Kadang, manusia tidak sadar bahwa cinta itu memiliki kemampuan untuk membutakan dan mengambil alih kendali yang selama kita pegang teguh, El. Cinta itu memperkaya sebuah rasa, kehidupan, tapi kadang menjemukan, dan menghancurkan. 

Permasalahan terbesar Guiraud adalah, dia tidak bisa membaca dirinya sendiri. Dia tidak tahu apa yang dia butuhkan, dan dia haus akan cinta. Itu bodoh, El. Dahaga yang dia rasakan itu tidak akan pernah bisa sembuh jika Guiraud tidak mau mencari penawarnya. Ya, Guiraud memilih untuk berhenti minum untuk melukai kerongkongannya. 

Fenomena ini normal, dan kamu pasti sering melihatnya, El. Demi kebahagiaan, manusia kadang berkorban terlalu jauh dan terlalu besar tanpa memedulikan diri mereka sendiri. Menurutku, seharusnya logika dan perasaan itu harus dilahirkan dalam keadaan yang imbang, bukan main hakim sendiri. 

Jika hal itu terus terjadi, manusia akan tunduk pada ego. Manusia akan mengalah pada hal-hal yang bersifat fana. Di saat yang sama, realitas memberikan tuntutan yang tidak mengenal waktu dan keadaan. Akibatnya, sebuah ledakan kejiwaan terjadi, membunuh insting yang mengubah pola pikir seseorang menjadi tidak waras. 

Aku menyalahkan Guiraud yang merendahkan dirinya hingga di bawah nol, El. Dia berhak untuk bernapas, dia berhak untuk bergerak bebas. Itu hak yang dia dapat sejak tangisannya menggema di ruang operasi, beberapa detik setelah ibundanya berjuang melawan kematian. 

Ini kompleks, El. Tapi, jika logika berada di posisi yang setara dengan perasaan, aku yakin Guiraud mampu memutuskan hal yang baik untuk hidupnya. Aku hanya menyayangkan Guiraud yang pintar tunduk pada perempuan yang lebih mementingkan egonya untuk bahagia. Itu tidak adil, El. 

Terserah saja, El. Manusia bebas untuk berpendapat, dan ini pendapatku. Pandangan setiap orang tentu berbeda, dan aku tidak mempermasalahkan itu, sebenarnya. 

Mungkin, aku hanya peduli pada seseorang yang memedulikan orang lain, El.
Mungkin saja.

Sadino's Monologue #14



“Don't cry while you are reading the book, wait until you are done reading it.”
― Alice Hoffman, "The Dovekeepers"


Hoffman benar, El. Cerita tentang aku dan Dove belum selesai. Kami masih mencoba untuk memanfaatkan waktu yang tersisa. Kami masih berusaha. 

Ada satu hal yang belum bisa aku ungkapkan pada Dove, El. Kemungkinan besar, aku tidak akan mengatakannya. Alasannya? Karena omonganku akan menghancurkan sebuah persepsi, El. 

Sejak dulu aku bingung, El. Apakah aku harus berempati, atau bersimpati pada Dove.

Oh, Doveku yang malang, Doveku yang rapuh.
Apa yang harus aku lakukan? 

Terekam dengan jelas di kepalaku saat matanya berbinar ketika mendengar musik favoritnya. Bagaimana dia menyikapi sesuatu yang tidak bisa dia kontrol, bagaimana ketakutannya akan masa depan menghancurkan pikirannya secara perlahan. Aku ingat itu, El. 

Tidak, Dove bukan orang yang manja, El. Sekali lagi aku ingatkan, dia hanya membutuhkan bimbingan. Dia hanya ingin jalan keluar. Dia hanya ingin melihat dunia dari perspektif yang berbeda. 

Aku memang bukan jawabannya, El. Kehadiranku adalah sebuah ancaman, dan aku sadar betul akan hal itu. Hanya saja, aku memilih untuk ditaklukkan, bukan untuk dikenang. 

Aku akan terus berdiam diri di sudut yang ia buat, El. Tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu di luar kendali. Tidak, El. Aku tidak akan menunggu untuk terluka lagi. 

Karena menurutku, Dove yang akan terluka hingga berdarah-darah, El. Dan aku akan ada di sana untuk membersihkan lukanya.

Sadino's Monologue #13



“Talk sense to a fool and he calls you foolish.” ― Euripides, "The Bacchae" 


Aku benar-benar tidak tahan dengan orang bodoh, El. Aku mengutuk mereka yang berlagak pintar, seakan dunia berada di dalam genggaman. 

Aku ingin si tolol ini bertukar posisi, El. Saat dia berada satu level di bawah tanah, aku yakin dia tidak akan bisa bernapas. Alih-alih mencari jalan keluar, orang seperti dia pasti hanya akan berteriak minta tolong. 

Dunia ini ganas, El. Dan aku berpijak di atas tanah yang ditinggali oleh mereka yang kemampuannya di bawah rata-rata. Apa yang menjadi indikator mereka untuk tetap hidup? Apakah kebodohan adalah target utama pencapaian mereka selama ini? 

Aku hanya bisa menerka, El. Aku tidak mau terjun bebas ke dalam jurang keangkuhan. Aku pernah dipeluk oleh kegelapan, dan aku berusaha keluar dari sana. Jika aku memilih untuk pasrah, lebih baik aku mati cepat, El. 

Semua hal yang dilakukan manusia di saat mata mereka terbuka lebar menantang dunia adalah bagian dari sebuah regulasi, El. Tentunya, untuk menduduki puncak dari sebuah teori, manusia harus mempelajarinya terlebih dahulu. 

Aku pikir, manusia harus mempelajari diri mereka sendiri, El. Mereka harus tahu batas, mereka harus tahu tingkat kesabaran diri mereka sendiri. Jika mereka tidak mengetahuinya, untuk apa menggurui orang lain yang lebih pintar? 

Sekarang, aku dikelilingi oleh mereka yang angkuh akan kekurangan diri mereka sendiri. Lagi-lagi, aku baru saja menelan racun paling mematikan di muka bumi. Aku tidak mau isi kepalaku ternodai akan hal-hal yang semu, El. Aku tidak mau mati dalam keadaan terdesak. 

Aku tahu kamu akan hanya menggeleng-gelengkan kepalamu, El. Integritasku sebagai manusia mengalami gangguan, dan orang-orang inilah penyebab utamanya. Aku ingin isi kepala mereka dibenahi, dirapikan sedikit agar mereka tidak terlihat memalukan. 

Bukan urusanku, memang, dan aku juga tidak akan terpengaruh untuk menelan apa yang mereka perbuat. Hanya saja, aku benci dengan kinerja otak mereka demi mendapatkan gelar "seorang pahlawan yang bijaksana dan bertanggung jawab". 

Dia yang tidak tahu diri, El. Dia yang seenaknya menciptakan sebuah aturan yang tidak bisa dia turuti. Dia tidak akan sanggup melakukan apa yang menurutnya logis. Saat dia melakukannya, aku yakin dia akan berubah menjadi seekor binatang yang siap mati penasaran. 

Goblok, kok, dipelihara. 

Sadino's Monologue #12


Mataku lelah, El. Pikiranku juga.
Ini yang dinamakan sebagai "hadiah dari Yang Kuasa?" 

Bukannya aku tidak bersyukur, El. Aku sudah melewati fase itu, dan aku sudah bisa menerima bahwa aku berbeda dengan mereka. Aku bisa melihat warna yang tidak dilihat orang-orang, dan aku terima itu. 

Sebenarnya, aku tidak ingin mengumbar hal ini, El. Hanya saja, aku muak dijadikan berhala oleh mereka yang tak tahu diri. Ada beberapa hal yang tidak bisa diartikan oleh manusia, dan sebagai raga yang hidup, kita harus menerimanya. Itu riil. 

Jangan menjadi seorang manusia yang bodoh dengan hanya memikirkan diri sendiri. Jika sudah bertemu jalan buntu, manusia menyebutnya dengan "takdir". Apa salahnya untuk berjalan mundur atau menoleh ke belakang, daripada duduk termenung menunggu bantuan? 

Manusia itu tidak pernah salah. Kami selalu benar. Asal, manusia mau mengesampingkan dogma. Tapi, dogma lahir dari persepsi manusia akan kehancuran dunia. Untuk terhindari dari ketakutan itu, lahir sebuah norma sebagai panduan untuk menjadi "manusia yang baik". 

Tapi, manusia itu tamak. Mereka ingin mendahului waktu. Mereka ingin tahu seperti apa masa depan mereka nanti. Mereka ingin tahu rahasia orang lain. Mereka gemar mencongkel keburukan orang lain, dan aku muak dengan itu, El. 

Akhir-akhir ini, aku kesulitan untuk mengontrol keinginanku untuk bertanya. Aku tidak berniat membantu, melainkan penasaran-- kenapa mereka mempersulit keadaan dengan memikirkan hal-hal di luar realitas? Secara tidak langsung, mereka adalah kaum radikal. Tapi--tentu saja--hal itu tidak akan pernah mereka akui. 

Sekalinya aku bertanya, aku digempur dengan pertanyaan lain yang kadang menghancurkan sistem kerja otakku. Dalam waktu singkat, mereka berubah menjadi pengikut paham nihilisme. Aku tidak melarang dan tidak menyalahkan. Tapi, kenapa aku? 

Karena aku bertanya kepada mereka, El? Aku hanya membimbing mereka untuk menemukan solusi. Aku hanya mengajak mereka berputar-putar di tempat yang sama, hingga jawaban yang mereka harapkan muncul di dalam pikiran mereka sendiri. 

Garis bawahi itu, El. Aku tidak memberi mereka solusi, melainkan mengantar mereka ke pintu keluar dengan usaha mereka sendiri. 

Untuk beberapa orang, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi, sisanya, mereka tahu apa? Mereka tidak mengenalku, mereka tidak berhasil menembus garis pertahananku. Aku sangat selektif, El. Bukan berarti aku pilih-pilih orang dan tak mau berhubungan dengan mereka, tapi aku tidak mau dibutakan dengan rasa peduli yang mengatasnamakan loyalitas. 

Aku hanya berbagi dengan beberapa orang soal ini, Elohim. Kamu pasti paham. Aku tidak mau terkontaminasi racun yang tidak mengandung moralitas. Aku melakukan ini demi kebaikanku sendiri. 

Kenapa manusia mudah percaya dengan hal-hal yang menjanjikan? Padahal, mereka mudah untuk mengingkari sebuah janji. Rasanya, aku seperti sedang berkubang dalam kolam darah dari sebuah pembunuhan massal. Ini pembohongan publik, namanya. 

Otak dan mataku tidak pernah berhenti bekerja, El. Aku ingin istirahat, pergi jauh dari hingar-bingar kota yang penuh polusi dan sakit hati. Tempatku lahir adalah kota yang marah, dengan penduduknya yang gemar menghabiskan waktu demi mendapatkan kebahagian dengan menghalalkan segala cara. 

El, kamu pasti sedang berpikir kenapa pembicaraanku tiba-tiba meluas dengan sendirinya. Kamu pasti sadar, semua itu berkaitan dan efeknya cukup besar dan sensitif. Aku berada di tengah-tengahnya, berusaha menyelamatkan diri dari peluru-peluru yang ditembakkan secara asal. 

Aku butuh bantuanmu, El. Kamu mentorku. Lindungi aku dari mulut-mulut yang saling beradu. Selamatkan "hadiah dari Yang Maha Agung" yang bersemayam cukup lama di dalam diriku. Genggam jiwaku, dengarkan batinku. 

Tidak, El. Aku tidak akan meminta agar "hadiah" ini dikembalikan. Aku terpilih untuk menjadi saksi bisu akan indah dan kejamnya kehidupan, dan aku mensyukuri hal itu. Hanya saja, bumi berotasi, begitu juga mereka yang berpijak di sana. Dalam satu tarikan napas, aku sudah bisa menerka, apa arti dari sebuah kehancuran yang sebenarnya. 

Izinkan aku melebur untukmu, El. Aku meminta untuk dituntun. Karena hanya kamu yang mengerti aku.

Sadino's Monologue #11




 El, aku jatuh cinta pada hal-hal yang berhubungan dengan kesukaran.
Kamu tahu itu.

Mungkin ini alasan kenapa aku menaruh rasa padanya. Bukan, orang ini bukan London. Bagaimana kalau kita panggil dia dengan sebutan "Bobcat"? 

Ada alasan kenapa aku ingin memanggilnya dengan nama binatang itu, El. Aku pernah membaca buku spiritual tentang hewan, judulnya "Animal Speak: The Spiritual & Magical Powers of Creatures Great and Small". Buku itu ditulis oleh Ted Andrews dan dijual ke pasaran sekitar tahun 2002. 

Agak sulit mencari buku itu. Tapi untunglah, teknologi semakin berkembang, dan aku bisa membacanya secara online.

Bobcat adalah predator yang bentuknya seperti kucing raksasa. Ukurannya lebih kecil dari singa dan harimau, kurang lebih seperti lynx. Menurut "Animal Speak: The Spiritual & Magical Powers of Creatures Great and Small", bobcat melambangkan kesendirian, bentuk penglihatan yang jelas, dan rahasia. 

Berdasarkan paham totemisme, bobcat melambangkan fleksibilitas, rasa ingin tahu terhadap diri sendiri, cenderung misterius, penuh teka-teki, elusif, dan tahu bagaimana menjalani hidup. Ini sesuai dengan sosok yang aku sebut sebagai "Bobcat". 

Tapi, Bobcat yang satu ini rapuh, El. Dia rentan, dan terlalu tunduk pada sekitarnya. Kadang, dia ingin bebas tanpa syarat. Namun, dia tidak punya keberanian untuk melangkah, El. Dia terpatri pada lingkungannya. Dia terlalu lama diselimuti oleh cinta dari lingkungannya, dan kau tahu kalau itu hanya sementara, El. 

Apa? Aku harus mengganti namanya? Bukan Bobcat? Kau pikir, sebutan itu tidak cocok dengannya? Kalau begitu, bagaimana dengan Dove? 

Dove atau merpati melambangkan kepercayaan, kesederhanaan, dan kepolosan. Aku rasa, omonganmu ada benarnya juga. Dove juga melambangkan individu yang rentan. Baiklah, aku setuju, El. 

Sesuai dengan paham totemisme, Dove adalah simbol ketenangan dan kedamaian. Ini sesuai. Tapi menurutku, dia terlalu tenang, El. Dia cari aman. Dove yang satu ini tidak mau melepas topengnya, kecuali dalam keadaan terdesak. 

Lalu, kenapa aku menaruh hati pada Dove? Karena, bagaikan seekor merpati yang dimangsa kucing hutan, Dove adalah sosok misterius yang rentan. Bukan berarti aku menyukainya, El. Tapi, energi kerentanannya sukar dipahami. 

Dalam tidurku, aku kerap mendengar jeritan minta tolong dan itu suara Dove. Doveku yang malang-- dia tidak bisa menghadapi dirinya sendiri. Terlalu banyak hal yang dia pikirkan, dan rata-rata tidak penting. Dove tidak bisa membedakan prioritas untuk keselamatan dirinya dan orang lain. Dove butuh dibimbing, tapi secara kasat mata. 

Aku pernah membantunya, dan aku tidak akan melakukannya lagi. Kecuali, jika dia berani untuk meminta padaku. Hidupnya bukan urusanku, El. Meski menarik untuk disimak, aku tidak mau mempersulit diriku sendiri. 

Ada satu hal dari Dove yang aku jadikan pelajaran berharga-- jangan pernah menunggu untuk terluka. Jangan menunggu sampai sayapmu patah, karena ketika kamu harus terbang, kamu hanya memperburuk keadaanmu. 

Kamu tahu dia, Elohim. Kamu pernah melihatnya. Mungkin sering. Dan aku tahu, kamu ingin memeluknya, bukan? Aku setuju, El.

Thursday, October 15, 2020

Lou


"...Got me thinking, been a long time, since the last time, I feel sincerely loved. Got me thinking, how could I still feel the vibe, while I don't even remember, how does it feel?"

Bagian pertama lagu "Thinking, Thinking" milik Teddy Adhitya itu membuatku terpaku. Musiknya mengalun lembut di telingaku, membangkitkan memori akan seseorang yang pernah hidup bersamaku beberapa waktu lalu.
Aku mendengarkan "Thinking, Thinking" dari ponselku menggunakan headphone sambil duduk sendirian di dermaga yang tak lagi terpakai. Tak ada suara lain di sini, selain lagu yang kudengarkan dan tenangnya suara ombak.
Emosional sekali aku, dan ini masih pukul lima pagi, pikirku dalam hati. Aku nyaris menyalahkan Teddy Adhitya akan kehadiran "Thinking, Thinking". Alasannya, lagu tersebut merepresentasikan apa yang aku rasakan selama satu bulan terakhir ini, dan itu menyebalkan.
Aku menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Bau air laut membuatku tenang, setenang orang itu saat dia menghancurkan hidupku di tempat sini.
"Aku tidak punya pilihan. Ini mimpiku, dan aku tak mau kau menungguku," kata dia kala itu.
"Persetan dengan waktu. Kau hanya ingin menyerah dan aku mengerti," ucapku.
"Kau tidak akan pernah mengerti. Aku hidup untuk membuat mimpi-mimpiku menjadi nyata, dan mimpi setiap orang berbeda. Kau tidak akan bisa memahami mimpi-mimpiku, dan aku tidak memaksamu untuk itu. Mengertilah, aku akan pergi jauh darimu dan aku tidak bisa menjagamu."
Aku membuka mata. Jantungku berdegup cepat mengingat betapa tenangnya dia saat memutuskan semuanya sendiri. Dia bahkan tak menatap wajahku saat mengatakannya. Setelah aku menganggukkan kepalaku untuk menuruti permintaan terakhirnya, dia pergi tanpa menoleh padaku. Dia benar-benar meninggalkan aku sendiri, di tempat aku duduk sekarang.

"I think I wanna be loved again. I just wanna feel love again. I miss the feeling of a hug, even I'm not hugging. I miss the feeling of a kiss, even when you're far away."

Sialan sekali bagian ini. Andai saja waktu itu, Rayi tidak bilang padaku kalau Lou sedang berada di kota ini, aku tak mungkin memikirkannya sampai sekarang.
Aku tak ingin bertemu dengannya. Dendam itu masih ada meski aku dan Lou tak lagi terikat. Lucu, mengingat aku merasa sudah memaafkannya dengan tulus.
Semalam, saat aku tiba di rumah, adikku bilang Lou datang seorang diri. Sekitar, dua jam sebelum aku pulang. Tololnya, adikku mempersilakan Lou untuk menungguku di rumah. Untungnya, Lou sadar diri untuk tidak menungguku pulang. Dia pun pergi setelah bercakap-cakap sebentar dengan adikku.
"Kau masih marah padanya?" tanya adikku. Dia menatap kedua mataku.
"Entahlah. Aku pikir, kami tak perlu bertemu lagi dan saling bertanya kabar. Itu tak penting," jawabku.
"Bagaimana jika hal itu penting untuk Lou?" adikku kembali bertanya.
"Aku tak mau berdebat soal ini," aku tersenyum dan berjalan menuju kamarku.
Adikku sempat mencegahku pergi dengan mengatakan, "Kau tak mau tahu apa yang aku bicarakan dengan Lou?" Aku membalasnya dengan menggeleng dan berlalu.
Kehadiran Lou-lah yang membuatku pergi diam-diam dari rumah pada pukul tiga pagi. Aku tak bisa tidur. Aku tidak mau Lou kembali mencariku. Melewati satu tahun tanpa Lou, melelahkan sekali rasanya. Aku sudah berusaha keras melupakanya, dan aku tidak mau kehadirannya menghancurkan usahaku selama ini.
Tapi, aku tahu dia. Lou adalah orang yang mau berusaha keras agar impiannya tercapai. Dia tak akan semudah itu menyerah. Dia pernah bilang, "Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya."
Dan itu yang Lou lakukan saat dia pertama kali bertemu denganku.

"Got me thinking, how come I never feel the same?
Why is it so hard to find the one, again?"

Lagu "Thinking, Thinking" berhenti mengalun beberapa detik setelah bagian itu. Aku menarik napas panjang seraya melepas headphone dan menaruhnya di sampingku, tepat di atas ponselku. Kepalaku menoleh pelan ke kanan, dan pikiranku tentang Lou terbukti.
Aku dan Lou saling menatap. Dia memandangku tenang. Entah pukul berapa sekarang, yang jelas langit sudah tak begitu gelap dan aku bisa melihat Lou dengan jelas. Wajah yang kurindukan, wajah yang tak ingin kulihat.
Tak ada yang bicara. Kami masih saling memandang. Ombak masih bergerak tenang, berdebur pelan seakan mengerti bahwa mulut kami berdua butuh waktu untuk mengeluarkan suara.
Lou melirik ke arah ponselku. "Kau tak akan tahu aku sudah duduk di sini dari tadi jika aku tidak mematikan lagu yang sedang kau dengarkan. Password-mu ternyata tak pernah berubah."
"Ya, tanggal ulang tahunmu. 061288," ucapku.
Kami kembali bergeming. Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri sekarang. Ternyata, kami masih berada di dalam frekuensi yang sama.
"Sama seperti lagu yang kau dengarkan terus daritadi," Lou menatap ke arah semburat matahari di depan kami. "How could I still feel the vibe? We didn't talk to each other for a long time. Aku bahkan tahu kau pasti di sini pagi ini. Kalaupun kau tak ada, aku akan menunggumu di sini sampai kau datang."
Aku menatap laut yang membentang luas di hadapan kami. Matahari sudah mengintip. Tanpa suara, aku menaikkan pundakku, sebagai tanda aku tak paham apa yang terjadi di antara aku dan dia sekarang.
Lou menghela napas. "Aku masih di sana. Tidak pernah berubah, dan tidak pernah tidak memikirkanmu."
"Tidak hanya kamu yang sulit berdamai dengan banyak hal. Aku pun bersusah payah berdamai dengan diriku sendiri. Aku membenci diriku yang telah mengorbankan banyak orang demi menggapai mimpi, termasuk kamu. Sampai akhirnya, aku bisa memaafkan diriku."
"Berpisah dengan oang-orang terbaik di hidupku dan tinggal di luar negeri itu sulit, Sa. Aku melakukan semuanya sendiri. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru, kebiasaan baru, dan budaya baru. Kerja kerasku pun terbayar. Aku keluar sebagai pemenang."
Aku tersenyum tipis. "Lalu, untuk apa kamu kembali ke sini?"
Lou menatapku. "Untuk mengejar mimpiku yang lain. Untuk kembali menjadi pemenang. Mendapatkan kamu, dan kembali hidup bersama kamu."

Sunday, August 30, 2020

Sadino's Monologue #10

 



“There were others, different perspectives where different things

have meaning that were just as valid.” ― Alan Moore. 



Quote komikus Alan Moore itu benar adanya, El. Moore mengatakannya setelah dia mengalami efek dari sebuah substansi tertentu. 

Aku ingat malam itu, El. Aku sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidurku, entah sudah berapa jam aku tidak bangkit dari sana. Aku terus membakar rokokku, dan rasanya hambar. 

Lagu "Change" milik Banks terus mengalun, memecah-belah pikiranku menjadi beberapa bagian. Kamar tidurku dipenuhi asap, tapi aku tidak peduli. Jendela kamarku tertutup rapat, dan AC kubiarkan terus menyala. 

Cahaya dari lampu hias LED berpendar di langit-langit kamarku, meminta untuk dipandang. Sambil menggumamkan bait-bait terakhir "Change" yang tidak berlirik, aku menutup mataku dan meresapinya. 

"Kamu gila, Sadino," bisikku pada diriku sendiri. "Kamu gila." 

Dengan mata terpejam, aku bicara sendiri. Hal-hal yang tidak masuk akal seakan nyata. Segala hal yang bertentangan dengan norma menjadi lumrah. 

Tanpa diminta, punggung tanganku bergerak dan menyentuh dahiku. Aku berdecak berulang kali, menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsuku. Aku ingin bunuh diri. 

Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Fuck you," bisikku, lagi-lagi pada diriku sendiri. 

Aku bangkit dari tempat tidurku, berdiri, dan menggeleng. Abu rokok yang telah memanjang jatuh ke lantai. Aku menatapnya, dan menghiraukannya. 

Aku duduk di pinggir tempat tidur dan menengadah. Aku ingin berteriak. Lagi-lagi, aku menahannya. Aku tidak akan membiarkan tubuhku merasa bebas. Dia harus tahu diri, karena jiwaku bukan jiwa sembarangan. 

Aku menggaruk bagian belakang kepalaku seraya mematikan rokok di asbak di samping tempat tidur. Aku kembali membakar rokok dan menaruhnya di atas asbak, membiarkannya terbakar tanpa tujuan. 

Telapak tangan kananku menghantam wajahku cukup kencang. Kini kedua tanganku bergerak-- mereka menjenggut rambutku. Mendadak, aku merasa tolol. 

Aku menatap jam dinding di atas pintu kamarku. 02.15. Malam masih panjang, dan aku sudah mati rasa. Aku mengeluh dalam hati, menyesali sesuatu yang tidak aku lakukan. Pandanganku kabur, saturasi mataku menurun drastis. Aku bisa merasakan pupil mataku melebar, dan jantungku berdetak semakin cepat. 

Rasanya seperti sedang melawan gravitasi. Rasanya, aku baru saja mengalami deformasi. Aku mengambil rokokku, mengisapnya dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan cepat. 

Aku menyeret tubuhku ke depan cermin. Tanpa diminta, aku menyentuh bayanganku di sana. 

"Kamu dehidrasi, Sadino?" ucapku pelan. Tiba-tiba, aku ingin menghardik diriku sendiri. 

Aku tahan keinginan itu. Gigi-gigiku saling beradu, mengeluarkan bunyi seperti engsel pintu yang sudah lama tidak diberi minyak. Aku ingin meninju bayanganku di cermin. Aku benci melihat diriku. Aku muak melihat wajahku sendiri. 

Ponsel pintarku berdering. Dengan lunglai, aku mencari sumber suara. Aku mengacak-acak tempat tidurku dan kutemukan ponsel pintarku yang menyebalkan itu. 

"Sadino," sapa seseorang. "Aku di bawah." 
"Tolol," dan aku matikan telepon. 

Aku melempar ponselku ke tempat tidur dengan kasar. Mendadak, tubuhku lemas. Aku bisa merasakan tulang-tulangku seperti terkikis. Mereka saling menggesek dan mengeluarkan suara seperti berderit. 

Seseorang membuka pintu. Tangan kirinya mengibas asap yang menghalangi pandangannya. Aku sadar aku menatapnya dengan liar. Tapi, saat aku tahu siapa orang ini, mulutku bergerak dan aku tersenyum. 

Lelaki yang tadi berada di ambang pintu kini sudah berada di dalam kamarku. Ia menutup pintu dengan pelan, dan melihat ke sekeliling. 

Sudah sejak lama aku mengagumi sisi kiri wajahnya. Hidungnya terlihat lebih mancung saat ia memandang langit-langit, dan anting hitam di telinga kirinya membuatku mendengus. 

Rambutnya tidak seperti lelaki-lelaki kekinian yang sisi kanan kirinya dicukur setipis mungkin dengan bagian atas rambut dibiarkan tebal dan diolesi pomade. Lelakiku ini membiarkan rambut tebalnya tumbuh bebas, dan aku bisa membayangkan bagaimana dia mengacak-acak rambutnya sebelum membuka pintu kamarku. 

London berjalan ke arah speaker di atas meja yang berada di dekat jendela dan mengecilkan volume suara. Kedua tangannya mendorong jendelaku secara perlahan, membiarkan angin malam menyeruak masuk ke dalam kamar. 

Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, London menaiki tempat tidurku, mengambil sebatang rokok dari atas meja di samping tempat tidur, dan membakarnya. Sambil merebahkan dirinya, London menatapku tajam. Tatapannya menembus asap tebal yang baru saja ia embuskan dengan perlahan. 

Tangan kanannya menepuk-nepuk sisi kosong tempat tidur di sebelahnya. Di saat yang sama, kepala London bergerak seakan menunjuk sisi kosong itu. 


"Kemari, Sadino," London tersenyum. "Ayo kita bicara."