Saturday, July 11, 2020

Merayakan Kepulangan Anakku pada Sang Esa

Jakarta, 31 Mei 2018 - Bom Surabaya


Apakah kamu tahu, perang yang paling menyeramkan di dunia?
Ya, berperang dengan diri sendiri.

Sejak kamu membuka matamu di pagi hari, kamu sudah berada di medan perang. Kamu akan berperang dengan orang-orang yang punya kepentingan. Logikamu akan berperang dengan perasaanmu. Kamu harus mengakuinya, setiap usaha yang telah kamu lakukan, mudah atau sulit, membutuhkan keringat dan kemauan.

Warga Surabaya sedang dilanda ketakutan. Selama dua hari, ledakan bom bunuh diri menghantui dan melekat di pikiran mereka. Rasa takut untuk melakukan sesuatu seakan bersifat abadi, menghancurkan keyakinan akan tenteramnya hidup berdampingan dengan sekelompok individu. Ya, warga Surabaya sedang berada dalam sebuah peperangan. 

Manusia menebar teror karena sebuah alasan. Alasan yang tak dapat dimengerti, tak dapat diterima, tak dapat dipercaya, dan lahir dari perang batin. Apa pun alasannya, setiap manusia punya tujuan dan hal itu lumrah. Mereka berperang dengan banyak hal, termasuk dengan diri mereka sendiri agar tujuan mereka tercapai. 

Sang penebar teror pun diberi gelar. Teroris, dengan aksi kekerasan yang berawal dari menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan. 

Keluarga Dita Oepriarto yang terdiri dari seorang istri dan empat orang anak tewas bunuh diri dengan bom yang melekat di tubuh mereka. Masing-masing memiliki peran, yakni meledakkan diri di tiga gereja berbeda di Surabaya. 

Ledakan lain menyusul di sebuah rusun di Sidoarjo. Bom milik Anton Ferdiantono meledak tanpa disengaja, menewaskan dirinya, istrinya, dan putrinya. 

Ledakan kembali terjadi di Polrestabes Surabaya. Tri Murtiono bersama istri dan dua putranya tewas bunuh diri dengan meledakkan bom yang mereka bawa. Ledakan itu melukai tiga polisi yang tengah berjaga, begitu juga dengan putri bungsu mereka-- yang ajaibnya-- selamat dari kejadian nahas itu. 

Dua keluarga ini punya tujuan yang tidak akan pernah bisa kamu mengerti. Ada sebuah pencapaian tertentu yang harus diraih, dan hal itu diagungkan oleh mereka.

Pedih. Anak-anak mereka tidak tahu apa-apa. Mungkin, mereka hanya diminta untuk percaya kepada orang tua. Anak-anak itu tak mau dicap sebagai anak durhaka. Tentu saja, setiap orang tua pasti memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Mungkin. 

Banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya. Apa yang sebenarnya dikatakan orang tua anak-anak itu sampai mereka mau mengikhlaskan nyawa untuk sesuatu yang... Tidak pasti? 

"Nak, surga itu indah. Kamu bisa menemukan apa yang kamu inginkan di sana. Tuhan akan mengabulkan semua permintaanmu." 

"Nak, semua yang haram akan menjadi halal di surga. Simpan keinginanmu itu, Tuhan akan memberikan apa yang kamu inginkan sesampainya kamu di sana." 

"Nak, jika kamu mencintai orang tuamu, lakukan apa yang mereka pinta. Sembilan bulan ibumu mengandung dan membawamu kemana pun dia pergi tanpa mengeluh. Ibumu bertaruh dengan kematian hanya untuk melahirkanmu ke dunia. Dia memberimu susu, memandikanmu, dan menggendongmu agar tangismu berhenti. Dia memberikan hidupnya untukmu. Sekarang, saatnya kamu membalas kebaikan ibumu." 

"Anakku, Rasulullah SAW pernah ditanya, siapakah orang yang harus dihormati di dunia ini. Beliau menjawab, 'Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu'. Tunjukkan cinta dan kasih sayangmu pada ibumu, Nak. Dengarkan dia, turuti kemauannya. Jangan lukai hatinya. Lebih baik, kamu yang terluka." 

"Harta yang paling indah adalah keluarga. Hanya maut yang mampu memisahkan kita, anakku sayang."

Dan orang tua mereka menciptakan maut
sebelum Tuhan menuliskan takdir anak-anak mereka. 

Setiap keluarga memiliki pertimbangan masing-masing. Baik atau buruk, itu bukan urusanmu. Tapi, jika pertimbangan mereka memberikan dampak besar dan melibatkan nyawa, kamu dibebaskan untuk mengecam dan mengutuk keras apa yang mereka lakukan. Entah adil atau tidak, manusia bebas untuk berpendapat. 

Kesepakatan pun dicapai tanpa adanya intervensi. "Baik bagiku, tentu baik untuk orang lain." Para orang tua mempermudah jalan mereka untuk mencapai sebuah tujuan hidup yang sudah memanggil tanpa suara, mengajak serta buah hati mereka, dan mengembuskan napas terakhir bersama dalam keadaan yang mereka sebut dengan 'kedamaian'.

Saya tidak menganggap mereka sebagai manusia-manusia yang tak beriman. Iman tak hanya berhubungan dengan agama, tapi juga dengan batin. Pergolakan batin yang tak kunjung usai membuat mereka mengambil sebuah langkah. Sadar atau tidak, rasa percaya di dalam diri menguat dengan sendirinya. Lagi-lagi, seorang pemimpin tahu yang terbaik untuk para pengikutnya. Dalam kasus ini, kembali ke pangkuan Sang Khalik adalah pilihan terbaik. Toh, pada akhirnya, kita semua akan kembali pada-Nya. 

Manusia,
kuatkan imanmu.
Peluk tubuhmu erat-erat dengan kedua tanganmu.
Bicara padanya,
pahami fungsi setiap organ di dalamnya.

Pikiran memang tak berbatas, karena manusia menentukan jalan hidup mereka masing-masing. Tapi, jangan ambil atau hasut jiwa lain dengan embel-embel 'demi kehidupan yang lebih baik'. 

Jangan menyebar teror dengan harapan, manusia akan takut pada Yang Maha Kuasa. Ingat, Tuhan tidak mencipta dan menebar teror. Teroris juga tidak terafiliasi dengan agama atau etnis mana pun. 

Satu hal lagi. Jika saya adalah salah satu anak dari keluarga itu, mungkin saya akan terus membatin hal yang sama secara berulang kali. Membatin dengan air mata, rasa kecewa, tapi entah kemana saya harus berlari. 

"Untuk apa Ibunda mengandungku selama sembilan bulan, berjuang melewati kematian untuk melahirkanku, merawat dan mendidikku hingga aku menjadi seorang remaja yang tangguh, jika pada akhirnya, dia sendiri yang mengembalikanku pada Sang Pencipta?" 

Adikku, mungkin, ini adalah pesta, persembahan dari ayah dan ibumu untuk merayakan kepulanganmu ke pelukan Sang Esa.

Friday, January 24, 2020

Kosmogoni.

Manusia kerap lupa diri.Awalnya, mereka saling menatih.Lama-lama, mereka saling menikam jantung satu sama lain. Apakah hal itu wajar?Apakah, itu memudahkan manusia agar tak sakit hati? Bukankah, saling mencabik mimpi satu sama lain sama saja dengan membunuh? Banyak hal yang aku tak bisa pahami.Paham apa yang sebenarnya mengatur dasar pola pikir manusia?Apa yang membuat manusia begitu rumit?Kenapa manusia mudah sakit hati? Aku mengalami sebuah kejadian, yang membuatku lupa akan makna dari kehidupan.Aku kehilangan ayahku, dan itu membuatku berpikir bahwa manusia hidup untuk merasakan kehilangan. Kehilangan seseorang, selamanya atau sementara, itu membuat luka.Aku kehilangan ayahku untuk selamanya,dan setelah satu tahun, lukaku tetap menganga. Aku pernah kehilangan Nagendra.Dia pergi dariku, dia hilang dari pikiranku.Lalu, dia kembali, membawa luka,dan menutupnya tanpa merasa berdosa. Semudah itukah, manusia datang dan pergi?Semudah itukah, aku dibunuh dan dihidupkan lagi? Di saat manusia yang aku kasihi pergi selamanya untuk bersatu dengan tanah, rasa kesepian yang tak berwujud itu menggeroggotiku.Mustahil untuk menghapusnya, atau menguburnya dengan memori-memori indahku dengan manusia itu semasa dia hidup. Ketika manusia yang aku kasihi pergi untuk mencintai dirinya sendiri,untuk menyelamatkanku dari dari jerat neraka Bumi,kekhawatiran menyerangku.Aku bagai dihantam seribu anak panah dan dipaksa untuk berdiri. Saat dia kembali dan menyentuh wajahku dengan jemarinya,ada rasa takut yang aku rasakan.Lagi-lagi, aku merasa seperti didesak, seperti, "Hancurkan dirimu untuk dia. Dia pantas menerimanya. Kau pantas mendapatkannya." Apa yang sebenarnya terjadi?Aku seperti perempuan yang tak punya mimpi.Aku hidup untuk merasakan hal-hal yang tidak ingin aku rasakan.Aku hidup untuk membantu orang lain.Padahal, aku yang sebenarnya butuh bantuan. Inikah jalan yang aku pilih? Apakah ini efek kelakuanku di masa lampau? Apakah ini rencana alam bawah sadarku? Apakah aku yang menciptakan ragu dan ketakutan di dalam diriku? Sampai jantung berhenti berdegup,aku akan terus menghakimi diriku.Tak akan ada yang paham.Tak akan ada yang mengerti. Ini kosmogoni. Semestaku.Hidupku, yang tak akan pernah aku kenali.

Thursday, October 24, 2019

Nukha.

Nukha tidak akan pernah tahu perasaanku.
Kadang, aku ingin dia tahu.
Kadang, aku ingin dia tak tahu.
Bahkan, kadang aku ingin dia tak perlu tahu.

Nukha selalu bilang, kalau dia sulit merasa percaya diri saat berada di dekatku.
Aku benci itu, dan Nukha tahu itu.
Dia selalu berkutat akan bagaimana caranya untuk menyamakan kedudukan,
persepsi, pola pikir, dan rasa.

Nukha paham aksara,
tapi menolak memahami kuatnya sebuah gerakan.
Nukha kerap menolak untuk dipelajari,
dan memilih untuk memikirkan sesuatu yang sukar terjadi.

Aku berdiri di sana,
seorang diri,
menatap Nukha dari jauh,
yang acuh tak acuh.

Aku benci itu.
Aku benci merasa canggung.
Dia begitu dekat,
tapi rasanya, seperti memandangnya dari atas mercusuar.

Aku butuh menyentuh Nukha setiap waktu.
Mendengar detak jantungnya sampai tertidur pulas,
menyibak rambutnya seakan tak ada hari esok.
Aku butuh merasakan manusia di dalam pelukanku.

Seluruh bagian tubuh Nukha adalah milikku.
Berani sekali aku, mengklaimnya seperti itu?
Darahnya mengalir untuk menghidupkan nadiku.
Kedua matanya bergerak untuk mencariku.

Berlebihan?
Rasa ini datang dari hulu karsaku.
Aku berlaku sesuai keinginanku,
dan aku bangga dengan itu.

Nukha tak akan pernah tahu,
seperti apa rasanya menjadi sensitif.
Nukha tak akan pernah tahu,
seperti apa rasanya memanusiakan rasa.

Jarak pendek terasa jauh.
Waktu terus berputar, tak peduli apa yang sedang terjadi.
Hitung mundur dimulai,
melewatkan momen dan ratusan pertanyaan.

Nukha, apakah kamu mengigau?
Aku mampu melihatmu walau mataku terpejam.
Aku mampu mendengarmu walau kau tidak bicara.
Nukha, apa yang kamu telan itu?

Aku menolak luruh.
Jangan takut dan pergi menjauh.
Robek hatimu dan berikan padaku,
Agar aku tahu kamu masih menyimpan rasa saat pertama kali bertemu denganku.

Tuesday, October 22, 2019

Nakai.

Hingga detik ini,
aku belum paham apa yang dipikirkan Nakai.
Caranya memandang dunia, menghakimi masa,
tak ada yang tahu selain Tuhan dan dirinya.

Sulit untuk mengerti dan menjinakkan tubuhnya.
Nakai bukan lelaki sembarangan.
Dunia menghakimi dirinya sejak usianya belum cukup tangguh untuk berperang,
membuatnya yakin akan persepsi yang manipulatif dan berbahaya.

Sulit untuk memahami seorang Nakai.
Nakai yang keras kepala,
Nakai yang merasa dirinya tak punya ruang untuk bicara,
Nakai yang rapuh, dan tak percaya diri.

Hidup mengajarkannya untuk berdiri dengan dua kaki.
Tanpa mengharapkan bantuan, tanpa belas kasihan.
Di saat orang-orang mengulurkan tangan untuk membantunya,
Nakai menolak mereka, dan berkata, "Aku bisa."

Nakai menutup dirinya dari peradaban.
Berlaku sesuka hati, dan hanya mencintai ibunya seorang.
Nakai yakin suatu saat, dia akan membuat orang-orang bangga,
dengan berpaling dari mereka yang selalu berselisih demi masa depan.

Nakai bertemu denganku suatu malam,
di ruang kosong dengan ratusan jendela.
Nakai menolak untuk bicara,
memilih diam dengan menyimak kedua mataku.

Jutaan detik aku habiskan untuk menyamakan pola pikirku dengan Nakai.
Tetap saja, aku tak bisa tembus.
Tembok yang dibangun Nakai begitu kokoh dan tinggi.
Aku harus berusaha lebih giat lagi.

Aku pinjamkan kedua telingaku padanya,
untuk menenangkannya saat dia meracau soal ketidakadilan dalam hidup.
Aku menggegamnya, memeluknya, melukai hatinya,
hingga Nakai sadar, bahwa dia sedang berhadapan dengan sosok yang nyata.

Aku adalah perempuan yang paling dia benci seumur hidupnya.
Aku mengubah jaringan sel saraf di dalam otaknya.
Mengendurkannya, mengarahkannya ke arah berlawanan.
Sadar tak sadar, Nakai berubah.

Nakai benci perubahan.
Nakai benci diatur.
Nakai benci diberi tahu.
Nakai mencintaiku, dan dia berusaha keras untuk itu.

Ratusan hari aku berjuang untuk membangunkan jiwanya yang usang.
Ribuan hari aku mengalah pada ego dan hatiku yang terbuat dari baja.
Dan satu menit aku berbuat salah,
Nakai memilih untuk menyerah dan membuang kerja kerasku.

Tubuhku menjerit,
tapi aku memilih untuk hancur bersama organ-organku.
Aku ingin terus menyentuh Nakai-ku.
Aku ingin melihat Nakai-ku bahagia.

Sampai kapan aku harus terluka,
demi lelaki yang gemar mengunci ingatan seperti dia?
Jawabannya, mudah.
Aku berkenan untuk menjawab.

Sampai Nakai mengalah pada kemandirian.
Sampai Nakai buta bahagia.
Sampai Nakai menghancurkan jemariku karena rasa memiliki.
Sampai Nakai rela mengubur keangkuhannya di ujung dunia.

Sampai Nakai berpaling dari langit berpendar,
hanya untuk menatap wajahku.

Sunday, May 19, 2019

Nagendra.

Putraku Nagendra,
aku benci melihatmu merenung,
berkawan dengan keheningan,
dan meraung dalam diam.

Nagendra,
rasakan cinta ibumu.
Dari dalam darah,
ke paru-paru.

Jatuhkan tongkatmu,
berdiri dengan kedua kakimu.
Tatap singgasanamu,
berbaliklah, dan bunuh para benalu.

Hatiku bagai api dilalap api.
Remuk redam,
basah dan berdarah,
melihatmu penuh luka dan tak berdaya.

Apakah aku menimang bayi,
atau sebuah kesalahan?
Nagendra akan mati tanpa perlu aku doakan.
Nagendra akan hidup selamanya di nirwana.

Kuatkan hati ibumu, Nagendra.
Dia bersumpah untuk tunduk pada cintanya akan neraka.
Robek wajah ibumu, Nagendra.
Dia menolak untuk memeluk jasadmu saat kau terbujur kaku.

Thursday, February 7, 2019

Pulang.

Saat kebencian mengalahkan doa,
saat hitam perlahan menghapus putih,
kamu berdiri di sana,
dan melebur denganku.

Aku,
yang tengah terpaku membeku,
merintih, mencoba melagu,
kelu, tapi ingin ditunggu.

Kamu membawaku pergi jauh dari sana.
Aku yang sedang berlinang air mata,
merebutku dari mimpi yang sedang merona,
mencegahku membusuk dengan asa sekuat baja.

Dalam dekapmu aku bicara,
bahwa rasa muncul tanpa rencana,
tanpa peringatan,
tanpa campur tangan aksara.

Aku pernah berjanji dengan diriku sendiri,
untuk selalu mencintai manusia,
meninggikan mereka, mengampuni mereka,
dan menjadi saksi bisu akan perjalanan hidup mereka.

Ikrarku adalah peluru yang bersarang di urat nadimu.
Genggam aku hingga mendarah daging.
Renggut aku dari ketakutanku.
Jaga aku baik-baik dalam doamu.

Kamu adalah perahu tanpa layar,
terombang-ambing saat senja berganti warna,
menerjang ombak, membunuh duka,
seraya  menunggu malam tiba tanpa aba-aba.

Ini bahagiaku,
harga mati dalam hidup yang semu.
Ini surgaku,
penghargaan terbesar dalam sejarah perjalananku menemukan rasa.

Kamu adalah badai tanpa derita.
Kamu adalah wadah berisi nyawa.
Kamu adalah hujan di tengah samudra.
Kamu adalah racun untuk mengobati luka.

Terima kasih, kamu membiarkan jiwa dan ragaku berburu.
Terima kasih, kamu mau melukis aku hingga lupa waktu.
Terima kasih, telah mendengarkan lantunan keluh kesahku.
Terima kasih, telah berbagi ruang kosong denganku.

Terima kasih sudah memperlihatkan rasa takutmu.
Tetap di sana, samakan ritme napasmu denganku.
Terima kasih, atas tempat tinggal yang nyaman,
hingga membuatku selalu ingin pulang.

Entitas.

Manusia,
lahir dari rasa,
dengan atau tanpa cinta,
berbentuk, berwatak, dan bermasa depan.

Kau melihat karena punya karsa.
Dituntut, dipaksa, tanpa perlindungan.
Dari pagi, hingga mataharimu raib dari sudut mata,
tanpa perlawanan, tanpa paksaan.

Kau dipaksa untuk merengkuh ketakutanmu.
Rasa yang kau kubur hidup-hidup,
rasa sakit yang tak bisa dirasakan manusia lain,
yang mana orang tuamu tak pernah ajarkan selama kau hidup.

Kau diserang, lebih cepat dari cahaya.
Kau terbakar, dalam api unggun tak bertuan.
Berharap rasa menghilang,
berharap mendapat pertolongan.

"Sembuhkan aku," pintamu pada bayanganmu.
Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu kecuali nalarmu.
Bangkit dan pergi dari sana sekarang.
Pergi jauh dari sana, cuci lukamu.

Kau berlari, menggenggam erat resahmu sebagai sebuah makhluk.
Sampai kau tiba di kaki langit,
bertanya-tanya hingga pucat dan membiru,
lalu menyadari, bahwa kau hidup dan tak kehilangan akal sehatmu.

Berhentilah.
Berhenti mematahkan tulang-tulangmu untuk belajar mencintai rasa.
Berhenti menghirup abu untuk melarutkan mimpi burukmu.
Kau adalah selebrasi untuk wujud sempurnamu.

Manusia,
sebagai entitas,
disegani, dipuja, dan disakiti,
hidup mandiri dari sakit hati.

Manusia,
bergeming, berpeluh, berduka,
bernapas dan berdarah,
untuk manusia, dari manusia.

Saturday, January 19, 2019

Kasatka.

Kasatka adalah ibu tak beranak.
Dia adalah seorang betina yang kuat,
seorang penyintas bertubuh besi,
dan seorang tawanan yang tak dihargai.

Mereka mengurungnya dalam sebuah ruangan penuh air.
Dia kerap berpeluh karena sulit untuk bernapas.
Dia kerap menyiksa dirinya untuk mendapat pertolongan.
Tapi, Kasatka tak pernah menyesalinya.

Satu kesalahan terbesar Kasatka,
dia tak pernah melawan.
Dia memilih untuk berkubang dengan ketakutan dan kebenciannya.
Kasatka melakukannya agar dia tetap hidup.

Kasatka tak bisa lari.
Dia tak punya tempat untuk pergi.
Kasatka terlalu lama berada di dalam air,
Kasatka terlalu lama berdiri sendiri.

Kasatka sadar dia diracun untuk tetap hidup.
Tapi, dia tetap berusaha agar pembuluh darahnya mengering.
Dia membiarkan isi kepalanya saling menabrak,
membuat luka yang tak akan bisa disembuhkan oleh doa.

Kasatka punya harapan.
Kasatka berharap agar dia memenangkan pertandingan itu.
Sebuah pergulatan batin yang tak akan pernah berakhir,
layaknya irama kematian yang datang tanpa diundang.

Sampai akhirnya, tubuhnya membiru dengan sendirinya.
Matanya tak lagi mampu untuk melihat.
Kedua tangan dan kakinya hancur karena selalu digunakan.
Mulutnya berdarah karena tak pernah bicara.

Kasatka adalah seorang juara.
Dia mati dengan cara yang dia inginkan.
Dia mati tanpa perlu dikenang.
Dia hidup untuk menghormati kesengsaraan jenisnya.

Kasatka adalah makhluk tak bertuan,
Tak menyembah, tapi disembah,
Tanpa dipaksa, tanpa paksaan.
Kasatka adalah cinta yang tak perlu direngkuh.

Saturday, September 15, 2018

Mahesa.

Untuk manusia,
Yang hatinya murni untuk mencinta,
Yang aku hancurkan tanpa aba-aba,
Maafkan aku.

Tidak, aku tidak ingin bicara.
Mendengar suaramu sama saja dengan membuka luka lama.
Aku telah menjahitnya dengan rapi,
Aku telah menutupnya dengan rapat.

Aku tidak menyalahkan keadaan.
Aku juga tidak menyalahkan kamu.
Aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa.
Ingat janjimu.

Kamu pernah bilang,
Jantungmu berdetak untukku.
Tuhan berpihak padamu ketika kamu kembali bertemu denganku.
Aku yang sedang hilang arah, aku yang tak paham dengan apa yang kamu inginkan.

Kamu di sana di saat aku butuh bantuan.
Kamu berdiri di hadapanku,
Ketika aku menolak untuk menyentuh ketakutanku.
Kamu duduk di sampingku saat langit memalingkan wajahnya dariku.

Kamu selalu menantikan satu kalimat dari mulutku.
Kalimat yang tak akan pernah kuucap,
Kalimat yang menghancurkan kita hingga tak bersisa.
Sampai akhirnya, kamu menyerah dan menerimanya dengan lapang dada.

Aku dan kamu,
Saling menatap di antara daun gugur.
Menahan perih, menahan rindu,
Saling menghancurkan dalam imajinasi, tanpa bicara.

Kamu tahu kita tersesat.
Aku, lebih tepatnya.
Kamu meraihku, menggenggam tanganku erat-erat,
Menolak untuk melepas, menolak untuk meninggalkan.

Usaha kerasmu itu,
Tidak aku hargai.
Keinginanmu untuk menjadi satu,
Aku mempermudahnya dengan sebuah perpisahan.

"Aku benci kalimatmu," ucapmu.
Percayalah, aku tidak membuangmu semudah itu.
Kamu manusia favoritku,
Kamu jawaban yang aku cari selama ini.

Kamu hidup dalam tubuhku.
Dalam euforia, dalam waktu lama,
Dalam sendiku, dalam darahku,
Memeluk jantungku, menghirup oksigen dalam paru-paruku.

Maafkan aku, Mahesa.
Aku membuat dadamu membiru.
Aku telah membuat wajahmu memar.
Maafkan aku, Mahesa. Maafkan aku.

Monday, September 3, 2018

Naresh.


Ada dua sisi yang ingin aku lihat,
Kamu, dan bayanganmu.
Aku ingin menyapa mereka,
Mendekap mereka, mencintai mereka.

Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan.
Tentang jiwa, sebuah perjalanan,
Tentang sifat, tentang rasa,
Sebuah euforia.

Selama ini,
Aku hanya melihat rasa takutmu.
Kamu takut dilalap api,
Terbakar, sendiri.

Naresh takut tenggelam.
Dia takut terlambat mengambil napas.
Dia tidak sadar bahwa oksigen yang akan mencarinya,
Menyatu dengan paru-parunya.

Dia bagai taifun,
Dia menghancurkan,
Tapi meninggalkan jejak,
Meninggalkan cerita.

Naresh menahan diri,
Mencoba untuk tetap berada dalam batas amannya.
Naresh menakuti mimpinya,
Dia membuatnya merekah secara perlahan.

Naresh berdamai dengan dirinya,
Dia merobek kulitnya,
Dan terlahir untuk ke sekian kalinya,
Menjadi seorang penyintas yang tak kenal takut.

Ada aku, Naresh.
Jangan takut.
Lihat aku, Naresh.
Ini jiwaku yang kau genggam.