Sunday, January 14, 2018

Adhyasta.

Adhyasta,
Aku minta tolong padamu.
Bawa ragaku yang telah menghitam ini,
Dan leburkan di pinggir laut.

Adhyasta,
Semalam, aku melihatmu membatin.
Aku melihat sakitmu,
Aku melihat deritamu.

Berhenti menghancurkan dirimu sendiri.
Izinkan aku meresapi sakit hatimu.
Izinkan aku untuk tinggal di sana,
Sebentar saja.

Adhyasta,
Akan datang hari di mana kamu harus berlari.
Dan kamu tidak boleh berhenti.
Kamu tidak boleh mati.

Jangan pernah berkeluh.
Jangan pernah menoleh ke belakang.
Hadapi aku, Adhyasta.
Rengkuh hatiku.

Bawa aku pergi, Adhyasta.
Buat aku berpikir kalau apa yang kita jalani ini lumrah.
Tidak, ini bukan takdir kita.
Karena kita memilih untuk jadi satu.

Sunday, December 31, 2017

Sajesha.

Ini aku.
Ini tubuhku.
Ini ragaku.
Ini isi kepalaku.

Tranggana berdiri di belakangku seraya menyibak rambutnya.
Sayaka dan Samasta memandang langit yang perlahan mulai memerah.
Jaladhi menutup matanya, mendengarkan semesta.
Jagratara menganggungkan angin yang menerpa wajahnya.

Garjita menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Sudrata berjalan pelan menghampiri saudara-saudaranya.
Nalendra berjongkok menatap awan yang bergerak pelan.
Dan Padma menganggukkan kepalanya seakan ia mengerti apa yang sedang terjadi.

Sembilan kesatria berdiri di singgasana yang sama,
Menyapa senja yang perlahan menghilang,
Menanti malam tiba,
Menunggu diburu.

Darah mereka adalah darahku.
Jantung kami berdetak bersama,
Dan mata kami juga memandang hal yang sama,
Yakni dunia baru, yang ada di kaki langit.

Saudara-saudaraku, bersiaplah.
Samakan napas kalian dengan napasku.
Satukan kebencian kalian dengan jiwaku.
Seka peluhmu, kita bersatu.

Saudara-saudaraku,
Ingat, kehidupan dan kematian akan saling menggugat.
Dari satu ibu kami menarik napas,
Mari leburkan kota para dewa yang tak bersuara.

Saturday, December 2, 2017

Yudhistira.

Bangun.
Ini bukan tempatmu.
Rumahmu di sini,
Di dalam pelukan kami.

Buka matamu.
Andai aku diperbolehkan untuk memaksa,
Akan aku pacu jantungmu,
Aku akan membangunkanmu dari tidur pulasmu.

Yudhistira,
Apakah kau mendengarku?
Kami gelisah,
Kami menunggu.

Yudhistira,
Peluk aku.
Aku ingin bersandar pada bahumu,
Berbagi cerita meski tanpa makna.

Yudhistira,
Aku ingin bicara.
Jawab aku,
Jawab pertanyaan kami.

Aku tahu kau sedang berjuang,
Untuk bertemu dengan keluargamu lagi.
Kita berjuang bersama,
Dengan doa dan harapan yang tak pernah lelah kami lantunkan.

Yudhistira,
Aku masih membutuhkan kamu.
Kembalilah pada kami,
Genggam jiwa kami.

Berhentilah bermimpi.
Tidak ada yang kau cari di sana,
Keinginanmu ada pada kami,
Karena rasa cinta tidak dapat dibeli.

Saturday, October 21, 2017

Eza.

Sebelas tahun lalu,
Eza berdiri di sana,
Menangis,
Menghancurkan hidupnya.

"Hidup aku berantakan, Sa."
Tarik napasmu,
Hembuskan perlahan.
Aku selalu percaya kamu bisa.

"Aku udah enggak bisa maju lagi, Sa."
Kami selalu percaya,
Kamu bukan mereka yang tak punya masa depan,
Dan harapan itu selalu aku genggam.

"Aku sakit. Badanku sakit semua, Sa."
Bertahanlah,
Bertahanlah sedikit lagi.
Sebentar lagi, kita akan melihat langit.

"Aku udah enggak bisa lihat apa-apa, Sa."
Jangan buat aku ragu akan kehadiran Tuhan.
Jangan buat aku berhenti berdoa.
Jangan buat aku ikhlas.

"Aku capek, Sa. Aku mau pulang."
Jangan berjalan ke sana,
Jangan melihat ke sana.
Pulanglah ke sini, ke pelukanku.

"Maafin aku, Sa."
Aku tidak ingin memaafkan sebelum kamu berjuang.
Pacu jantungmu,
Aku mohon, bertahanlah.

Dan aku mengalah pada takdir.
Terluka, dan menyerah.
Di usia 21 tahun,
Tuhan mengambil Eza dari pelukanku.

Sulit,
Karena dia tak mau mengerti.
Sulit,
Karena dia menolak untuk mendengar.

Keinginannya sudah salah sejak awal.
Keputusannya telah menggerogoti tubuhnya,
Dia kehabisan waktu,
Mempermudah mimpinya menjadi sebuah fatamorgana.

Eza, ini aku.
Perempuan yang kamu tampar berulang kali,
Perempuan yang kamu peluk kakinya saat tubuhmu gemetar,
Perempuan yang kamu hancurkan doanya saat dia memintamu untuk bertahan.

Maaf,
Karena aku lupa.
Maaf,
Karena ternyata, aku masih terluka.

Thursday, October 5, 2017

Danur.

Maukah kamu berdosa,
Untuk kami yang tak lagi disegani?
Maukah kamu memimpin,
Barisan manusia yang sedang patah hati?

Danur memandang nanar,
Tangannya menggenggam nirwana,
Melantunkan lagu rindu,
Membalut semesta dengan doa.

Ini adalah bahasaku,
Ringan, tapi bermakna.
Merangkul mereka yang penuh noda,
Merengkuh, merayu.

Ajak aku pergi,
Yang sedang bermain hati,
Aku yang tak bertulang,
Aku yang bermuram durja.

Ini napasku,
Menari dalam angan,
Menuai kontroversi,
Melahirkan kesunyian.

Danur melihatku,
Menggeleng pelan,
Berjalan pergi,
Mencari suara yang memanggilnya untuk kembali.

Wednesday, September 20, 2017

Tribuana Tunggadewi.

Kamu pikir,
Kita sedang berbagi luka?
Kamu pikir,
Aku menunggu kamu kembali?

Ya, kamu benar.
Aku ingin melihat kamu,
Meraung dan mengemis,
Menyebut namaku.

Tapi,
Aku bukan orang jahat.
Aku hanyalah lelaki yang berhenti berharap.
Aku adalah bayangan yang selama ini kau cari.

Aku ingin bertemu.
Agar kita saling menyakiti,
Agar pedihku jadi pedihmu,
Agar kita kembali jadi satu.

Aku ingin lihat,
Bagaimana sebuah rasa mampu memimpin ego,
Ego yang tak akan jinak,
Untuk kita yang sama-sama kecewa.

Aku adalah hantumu.
Atau sebaliknya?
Siapa yang salah?
Siapa yang akan mengalah?

Dengarkan aku,
Dengarkan hatiku yang angkuh.
Jangan datang jika tak akan kembali.
Jangan berani bertanya jika tujuanmu hanya air mata.

Sunday, September 17, 2017

Angkasa Jaya.

Andai kamu punya sayap,
Kamu pasti sudah pergi ke negeri seberang.
Andai aku punya sayap.
Aku pasti menyusulmu ke sana.

Ini mimpimu,
Mimpi seorang lelaki yang aku banggakan,
Bagian dari bahagiamu,
Dan juga bahagiaku.

"Ikut aku," katamu,
Seraya mengulurkan lengan kananmu,
Mencoba meraihku,
Yang memilih untuk diam di tempat.

Aku telah membayangkan,
Ratusan gedung pencakar langit,
Air sungai yang mengalir jernih,
Ragamu di sana.

Angin memanggilmu.
Membawa setiap memori di dalam kepalamu,
Pergi jauh,
Meninggalkan aku dan mereka yang hancur melihatmu.

Beri warna pada angkasa,
Kini kamu tiada tandingannya.
Sebut satu nama yang kamu genggam detik ini,
Karena di udara, kita berjaya.

Monday, September 11, 2017

Radityan.

Aku tak lagi mendengarmu di sini.
Aku tak lagi mendengar detak jantungmu,
Tak lagi mendengar deru napasmu.
Tubuhmu telah membisu.

Aku mencoba mereka ulang kisahmu.
Ketika kamu melukis sebuah cerita,
Ketika kamu berlari menuju senja,
Ketika anggota tubuhmu bergerak bebas dan bahagia.

Ini lebih baik.
Aku lelah,
Melihat tubuhmu diwarnai memar,
Melihat tubuhmu remuk tanpa disengaja.

Radityan,
Pria penuh ambisi,
Tak pernah lelah untuk tertawa,
Penuh cinta dan dicintai.

Terlalu baik,
Terlalu sabar,
Radityan tak ingin mengejar,
Namun waktu tidak berpihak padanya.

Aku akan membingkai mimpimu.
Aku akan simpan deritamu.
Aku akan menutup rapat ingatanmu.
Karena kamu hidup, untuk kembali.

Radityan,
Teruslah berlari hingga aku tak bisa mengejarmu.
Ikhlasku adalah rasa sayang yang akan selalu menemani.
Dan doa kami, selalu menyertai.

Selamat tidur, Radityan.

Saturday, September 9, 2017

Dursasana.

Singkat cerita,
Dursasana adalah seorang pendendam.
Alasannya, karena dunia butuh keadilan,
Karena manusia tidak pernah salah.

Ia terpaku pada sebuah aturan,
Yang dibuat untuk dihancurkan.
Dengan gelisah,
Ia menyebut nama-nama yang pernah membuka lukanya.

Dursasana mencoba mengingat,
Akan wajah Drupadi, cinta lamanya.
Akan wanita yang wajahnya dibalut cahaya,
Yang juga lambang kegembiraannya.

Mimpi.
Itu hanya mimpi.
Tidak mungkin ia jatuh cinta lagi.
Itu tidak adil.

Dursasana menolak lupa.
Bagaimana watak seorang raja.
Bagaimana rupa seorang ksatria.
Berdarah untuk mimpi, untuk kami.

Mereka yang berdiri di ujung senja,
Tak akan melupakan pahitnya sebuah zaman.
Berdiri angkuh menantang waktu,
Mengabadikan momen yang akan hilang terbawa arus.

Dursasana mengangguk pelan.
Ia berdecak, dan menutup kedua matanya.
"Untuk siapa kamu hidup?" tanyanya dalam hati.
"Kenapa kamu hidup?"

Dursasana membuka matanya.
Ia mereka ulang semua cerita,
Meninggalkannya tanpa suara,
Tanpa pertanyaan, tanpa jawaban.

Inilah air mata Dursasana,
Yang mencoba menembus batas namun tak bisa,
Yang ingin terus terjaga dari alam bawah sadarnya.
Dursasana yang berhasil lepas dari kebencian.

Sunday, September 3, 2017

Duryodhana.

Aku berjanji,
Untuk tidak melihat ke belakang lagi,
Untuk tidak meminta sesuatu yang bersifat tidak pasti,
Untuk tidak mematahkan mimpi seseorang.

Aku puas,
Akan sebuah derita,
Fakta akan sebuah mimpi,
Dan deru sakit hati.

Demi mata yang menatap dengan liar,
Demi napas yang tak beraturan,
Demi angan yang aku kubur hidup-hidup,
Demi kamu.

Seperti Duryodhana yang mendambakan dirinya sendiri,
Elegiku memecah heningnya sebuah kota,
Memandang rendah mereka yang meninggikan egonya,
Melumat asa dan rasa.

Seperti Duryodhana yang mengagungkan dirinya,
Aku pergi berperang,
Untuk senyawa, arti sebuah cerita,
Untuk waktu, tentang suara.